PENERAPAN ERP
DAN BI
- ERP ( Enterprise Resource Planning )
Perencanaan sumber daya
perusahaan, atau sering disingkat
ERP dari istilah bahasa Inggrisnya, (enterprise resource planning), adalah sistem
informasi yang diperuntukkan bagiperusahan
manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan
proses bisnis yang berhubungan dengan aspekoperasi, produksi maupun distribusi
di perusahaan bersangkutan.
Keuntungan ERP :
a)
Integrasi data keuangan
b)
Standarisasi Proses Operasi
c)
Standarisasi Data danInformasi
d)
Keuntungan
yg bisadiukur
e)
Penurunan
inventori
f)
Penurunan
tenaga kerja secara total
g)
Peningkatan service level
h)
Peningkatan kontrol
keuangan
i)
Penurunan
waktu yang di butuhkan untuk mendapatkan
informasi
Contoh Penerapan
ERP
Ø
ERP PADA PT. SEMEN GRESIK
_%20contoh%20penerapan%20ERP(Enterprise%20resource%20planning)%20&%20SCM(supply%20chain%20management)_files/ERP.jpg)
v IMPLEMENTASI
ERP PADA PT. SEMEN GRESIK
_%20contoh%20penerapan%20ERP(Enterprise%20resource%20planning)%20&%20SCM(supply%20chain%20management)_files/ERP.jpg)
PT.
Semen Gresik adalah perusahaan bergerak di industri semen, yang didirikan sejak
tahun 1957. Pada bulan Juni tahun 2001, ERP mulai diaplikasikan untuk mendukung
bisnis proses yang ada di Semen Gresik dengan penerapan pertama kali dilakukan
di bagian finansial. Dengan berjalannya waktu, implementasi dilakukan di bagian
penjualan dan kemudian di bagian manufakturing.
Ada
beberapa hal yang melatar belakangi Semen Gresik untuk mengimplementasikan ERP
(Garside, 2004), yaitu :
a. Kebutuhan
‘Back Bone System’ yang kuat dan mampu memberikan informasi yang relevan dan
tepat waktu.
b) Kebutuhan
integrasi sistem informasi Semen Gresik Group (SSG) guna mendapatkan sinergi
yang lebih optimal. Faktor-faktor yang mendorong adanya kebutuhan integrasi
tersebut diantaranya adalah :
c) Bergabungnya
Semen Tonasa dan Padang sebagai subsidiary Semen Gresik (distributor) Semen
Gresik tersebar di wilayah Jawa-Bali sehingga membutuhkan sistem
tersentralisasi untuk pengiriman ordernya agar order dapat segera diproses dan
dipenuhi.
d) Jaringan
distribusi Semen Gresik memiliki dua pabrik, dua puluh tiga gudang penyangga,
seratus dua puluh distributor dan empat puluh Ekspeditur. Order dari
distributor dapat dipenuhi dari pabrik maupun gudang penyangga sehingga perlu
sistem informasi yang terintegrasi diantara pabrik, gudang dan distributor.
e) Jaringan
pengiriman semen sangat kompleks dan melibatkan Ekspeditur untuk
menyelenggarakan jasa transportasi di Semen Gresik, menyebabkan kebutuhan untuk
mengintegrasikan informasi-informasi yang berkaitan dengan pengiriman barang
terutama dengan pihak Ekspeditur.
Semen
Gresik sebenarnya telah menggunakan aplikasi buatan sendiri (in-house
development) berbasis program Foxbase dan database Sybase sejak 1989.
Sayangnya, aplikasi-aplikasi yang digunakan hanya untuk menunjang operasional
bisnis di tingkat departemen/bagian, dan belum terintegrasi antara satu dan
lainnya.Dalam perjalanannya, sistem tersebut tidak bisa mengakomodasi kebutuhan
perusahaan -- khususnya para user -- yang dari waktu ke waktu terus berkembang.Jadi,
perkembangannya di-drive oleh para user.
Dan
dalam praktiknya, tenaga TI memang bisa mengembangkan sesuai kebutuhan
mereka.Karena itu, manajemen PT. Semen Gresik akhirnya memutuskan mencari
solusi baru yang lebih powerful dan bisa terintegrasi dari hulu ke
hilir.Manajemen Grup Semen Gresik sangat berkeinginan memiliki sistem informasi
yang bisa dipakai untuk menunjang aspek operasional, taktis bahkan strategis.
Sistem itu juga harus mampu menciptakan kemudahan, kecepatan dan kenyamanan
bagi mata rantai bisnis di lingkungan perusahaan: pemasok, pelanggan, tiap
departemen dan unit-unit di lingkungan Grup Semen Gresik, serta stakeholder
lainnya. Untuk merealisasikannya, pada Oktober 2000 dibentuklah Tim Proyek
Sistem Informasi Grup Semen Gresik.
v PROSES
IMPLEMENTASI ERP PADA PT. SEMEN GRESIK
Berikut
ini adalah tugas Tim Proyek Sistem Informasi Grup Semen Gresik :
1. Mendefinisikan
rencana proyek yang realistis dan melaksanakan perubahan proses bisnis sesuai
tujuan perusahaan.
2. Melaksanakan
tahap-tahap pengembangan dan penerapan sistem dengan sebaik-baiknya, sesuai
dengan target waktu yang ditentukan.
3. Mengusulkan
penunjukan konsultan dan penetapan platform Sistem Informasi Perusahaan.
4. Menyusun
rencana anggaran dan melaporkan realisasi biaya proyek.
5. Melaksanakan
pengadaan barang dan jasa dalam batas-batas tertentu yang ditetapkan oleh
direksi.
6. Membuat
laporan manajemen secara berkala dan menyusun dokumentasi proyek.
Setelah
melalui proses cukup panjang -- memakan waktu hampir 1,5 tahun -- Semen Gresik
akhirnya memutuskan memakai solusi ERP JD Edwards. Alasannya, solusi ini
merupakan solusi Best Practice, serta cukup fleksibel dan mudah
diimplementasikan. Bahkan, beberapa pemain semen terbesar di dunia menggunakan
solusi ini, seperti Lafarge, Cemplank, Argos, Cockburn Cement, Cruz Azul, Calme
Cementi, Ferrobeton.Sebelum diimplementasi, Tim Proyek meneliti lebih jauh
calon user (stakeholder analysis) selama hampir empat bulan. Salah satu
tujuannya: mengetahui sejauh mana tanggapan dan apresiasi mereka terhadap
sistem baru yang akan segera diimplementasi.
Hasilnya,
beberapa calon user di sejumlah departemen memang ada yang menunjukkan
resistensi terhadap perubahan, namun secara umum banyak yang menerima terhadap
solusi ini.Proses selanjutnya adalah perusahaan membeli beberapa perangkat
hardware yang mendukungnya. Pada saat yang hampir bersamaan, perusahaan
membangun jaringan LAN/WAN ke seluruh cabang hingga ke gudang-gudang yang
tersebar di beberapa lokasi dan proses ini saja memakan waktu hingga dua tahun.
Proses
implementasi modul-modul ERP ini, dimulai pada November 2000. Modul
Maintenance, Inventory dan Purchasing bisa go live Oktober 2001. Menyusul
kemudian modul Finance pada Januari 2002, dan terakhir modul Sales Order &
Transportation bisa diselesaikan pada Juli 2002.Proses impelementasinya
dilakukan secara bertahap atas pertimbangan efektivitas. Pada fase ini, Semen
Gresik dibantu oleh konsultan Berca HardayaPerkasa dan Praweda. Ada sekitar 60
orang yang terlibat pada fase ini: 10 tenaga TI, dan sisanya terdiri dari para
user dari berbagai departemen. Hal yang paling rumit terjadi adalah pada saat
implementasi modul Sales Order & Transportation karena untuk modul ini,
para user-nya tidak hanya dari kalangan internal, tapi juga berbagai mitra
bisnis, seperti para buyer (distributor), toko-toko, dan perusahaan
ekspeditur/transporter (pengangkut semen) yang jumlahnya sekitar 100 dan
tersebar dari Serang, Madura hingga Bali. Sehingga kendalanya justru terletak
pada sisi SDM-nya, bukan pada sistemnya. Oleh karena itu, sebelum implementasi,
dilakukan proses sosialisasi. Antara lain, dengan mengumpulkan seluruh
distributor dan memberikan briefing kepada mereka. Setelah proses implementasi
selesai, dilanjutkan dengan tahap internalisasi (bersifat teknis): tim TI Semen
Gresik mendatangi para distributor di tiap daerah satu per satu.PT. Semen
Gresik harus mengeluarkan dana sekitar Rp 46 miliar lebih. Namun, biaya sebesar
itu tidak hanya diperuntukkan bagi pembangunan sistem dan infrastruktur di
Semen Gresik, tapi juga mencakup Semen Padang dan Semen Tonasa.
Anggaran
Implementasi ERP di Grup Semen Gresik:
1. Perangkat
lunak JD Edwards termasuk lisensi: Rp 7,3 miliar.
2. Perangkat
keras (server & client), Database dan Jaringan: Rp 30 miliar.
3. Jasa
Konsultan: Rp 5,2 miliar.
4. Pendidikan
dan Latihan: Rp 2,9 miliar.
5. Umum
& Administrasi: Rp 800 juta.
6. Tata
Ruang: Rp 400 juta.
Dalam
mengimplementasikan ERP di Semen Gresik, beberapa aspek teknis yang dilakukan
oleh departemen Information Technology (IT) diantaranya :
1. Mengimplementasikan
sofware J.D.Edwards
2. Membangun
sistem jaringan komputer (LAN/WAN)
3. Membangun
infrastruktur server dan database
4. Membangun
tata ruang sistem informasi
5. Menyusun
dokumentasi sistem.
Sedangkan aspek non
teknis yang dipertimbangkan oleh departemen IT pada khususnya serta perusahaan
pada umumnya dalam menyongsong implementasi ERP adalah :
1. Komitmen
manajemen agar implementasi berhasil sehingga yang dipertimbangkan tidak lagi
apakah Software tersebut yang ”The Best”.
2. Proses
mapping dilakukan karena bisnis proses J.D.Edwards ternyata tidak sama dengan
bisnis proses yang dijalankan Semen Gresik. Dari proses mapping ini ada dua
kemungkinan yaitu bisnis proses semen Gresik mengikuti J.D.Edwards atau
sebaliknya. Tahap selanjutnya yang dilakukan adalah mengkaji efek dalam jangka
panjang dan pendek terhadap pemilihan bisnis proses yang akan dipakai. Sebagai
contoh proses pengadaan barang diputuskan oleh Semen Gresik untuk mengikuti bisnis
proses J.D.Edwards.
3. Perubahan
bisnis proses dan implementasi ERP menyebabkan perubahan-perubahan dalam
struktur organisasi berupa bertambahnya job discription dan unit-unit kerja
baru yang berfungsi untuk mendukung implementasi ERP.
4. Aplikasi
”Change Management” untuk mengelola perubahan-perubahan yang terjadi dengan
adanya implementasi ERP.
Kendala-kendala dalam
Implementasi ERP
Beberapa
kendala yang dihadapi oleh pihak Semen Gresik dalam implementasi dikategorikan
menjadi 3 aspek :
1. Teknis,
diantaranya masalah bahasa dan perubahan dari model hard copy menjadi model
display. Penggunaan Software ERP menuntut terminologi istilah yang sama
sehingga istilah-istilah dalam produksi, penjualan, dan lain-lain yang
digunakan di Semen Gresik harus dirubah sesuai istilah-istilah dalam ERP yang
berbahasa Inggris. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pihak manajemen
secara tradisional dilakukan dengan menggunakan model hard copy dimana Manajer
menandatangani tumpukan kertas yang dimejanya dipaksa untuk membuka komputer
karena proses Approval dilakukan melalui media tersebut (model display).
2. Budaya,
implementasi ERP yang berbasis penggunaan teknologi menuntut
perubahan-perubahan yang harus dilakukan karyawan diantaranya harus aware
terhadap penggunaan software tersebut (sebagai contoh selalu update data).
3. Politik,
kendala yang menghambat implementasi berasal dari dalam tubuh departemen IT
sendiri dan dari luar departemen. Sebagian besar karyawan IT merasa
pekerjaannya akan hilang karena digantikan oleh sistem tersebut. Hal ini
dikarenakan sebelum penerapan sistem ERP, bagian IT inilah yang bertanggung
jawab untuk membuat aplikasi-aplikasi sesuai dengan kebutuhan user di semua
departemen.Beberapa karyawan di luar departemen IT juga merasa terancam dengan
berkurangnya kekuasaan karena sebagian pekerjaan akan dilakukan oleh software
ERP.Dengan alasan politis tertentu, beberapa unit kerja yang sebenarnya bisa
dihapus dengan penerapan J.D.Edwards tidak dapat dilakukan.Keengganan user atau
karyawan departemen lain pada saat diimplementasikan software karena adanya
unsur ”ketidakpercayaan” terhadap departemen IT. Ketidakpercayaan tersebut
timbul karena ketakutan bahwa data-data atau laporan-laporan rahasia mereka
akan diketahui oleh bagian IT selaku administrator. Untuk mengatasi kendala
tersebut, ada beberapa hal yang telah dilakukan pihak Semen Gresik : Implementasi
Change Acceleration Project (CAP) untuk mengelola perubahan-perubahan yang
terjadi dalam implementasi ERP, Pendekatan dengan user sebelum penerapan sistem
ERP melalui presentasi-presentasi untuk menunjukkan kelebihan-kelebihan
implementasi sistem tersebut dan Pengembangan Sistem Recovery dalam
Implementasi ERP.
v HASIL
IMPLEMENTASI ERP
Dengan
implementasi yang telah dilaksanakan di Semen Gresik ada beberapa perbaikan
yang diperoleh diantaranya :
1. Mempercepat
proses order dari distributor sehingga membantu meningkatkan penjualan semen.
2. Mempercepat
waktu pembuatan laporan keuangan, dari sebelumnya per tanggal lima belas
menjadi tanggal lima sudah tercetak semua laporan.
3. Meningkatkan
keakuratan informasi
4. Proses
bisnis yang berlangsung di perusahaannya jauh lebih efisien. Semua proses
bisnis di berbagai departemen sudah bisa dilakukan secara cepat dan tepat.
5. Dari
sisi produktivitas karyawan, terjadi peningkatan yang mengacu pada survei
internal perusahaan, setelah 6 bulan sistem baru itu go live, umumnya user
mengaku puas.
v KESIMPULAN
Implementasi
ERP di Semen Gresik jelas memerlukan perubahan-perubahan budaya organisasi
terutama dikaitkan dengan cara bekerja, misalnya karyawan dituntut terus
menerus untuk meng-update data karena informasinya diberikan oleh sistem ini
harus bersifat real time. Dengan berjalannya waktu ternyata pihak Semen Gresik
dapat melakukan perubahan budaya organisasi sehingga user lebih siap dalam
mengoperasikan sistem yang baru.
Implementasi ERP di Semen
Gresik dapat dilihat bahwa perusahaan tersebut telah mengelola
perubahan-perubahan dengan cukup baik, terbukti dengan dilakukannya aktivitas
berikut :
1. Mengelola
perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat implementasi dengan mengadopsi
CAP.
2. Melakukan
pendekatan-pendekatan kepada departemen yang akan diimplementasi untuk
mendapatkan komitmen. Komitmen ini sangat penting untuk meyakinkan bahwa mereka
akan menggunakan dan mendukung sistem ERP.
Dari
pembahasan diatas, ada satu faktor penting lagi yang membawa kesuksesan
implementasi ERP di Semen Gresik yaitu komitmen manajemen, dimana dari awal
pihak manajemen sudah mempunyai inisiatif untuk menerapkan sistem ini.
Dengan
menerapkan ERP, maka perusahaan harus memilih antara merubah bisnis proses yang
dimilikinya untuk menyesuaikan dengan sistem ERP atau sebaliknya. Agar dapat
memilih, perusahaan yang akan mengimplementasikan ERP tentunya harus sudah
mempunyai bisnis proses sehingga dapat membandingkan dengan bisnis proses dari
sistem ERP. Dari perbandingan tersebut, jika bisnis proses yang dimiliki
perusahaan sudah matang maka tidak banyak perubahan yang dilakukan. Semen
Gresik memutuskan untuk beberapa bisnis proses ada yang mengikuti sistem J.D.Edwards
dan ada yang tidak.
Dari
pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa faktor kunci
kesuksesan implementasi ERP di Semen Gresik, yaitu : bisnis proses yang matang,
manajemen perubahan yang baik, komitmen mulai dari level manajemen sampai ke
user, dan perubahan budaya organisasi. PT. Semen Gresik berhasil
mengintegrasikan perubahan dengan mempertimbangkan business process, people dan
IT.
Ø Penerapan ERP
Pada PLN
Untuk mensejajarkan diri
dengan perusahaan-perusahaan penyedia listrik tingkat dunia, PT PLN (persero)
mengimplementasikan Enterprise Resource Planning (ERP), sistem yang
mengintegrasikan seluruh elemen-elemen pada perusahaan termasuk unit-unit
bisnis yang diakomodasikan oleh IT. Penerapan ERP ini diharapkan akan meningkatkan
kompetensi perusahaan dan secara otomatis akan meningkatkan pelayanan.
Penerapan ERP ini akan mengintegrasikan seluruh kantor PLN baik pusat maupun
daerah secara on-line, dan seluruh kantor PLN tersebut akan terstandarisasi.
Dengan penerapan ERP di lingkungan perusahaan, maka setiap pegawai diharuskan untuk beradaptasi dengan perubahan sistem yang terjadi. Pengimplementasian ERP jelas akan merubah pola kerja suatu perusahaan.
Dengan penerapan ERP di lingkungan perusahaan, maka setiap pegawai diharuskan untuk beradaptasi dengan perubahan sistem yang terjadi. Pengimplementasian ERP jelas akan merubah pola kerja suatu perusahaan.
Strategi Bisnis PT PLN (persero)
Ide penerapan ERP di PT PLN (persero) telah direncanakan dengan sangat matang seperti dikemukakan oleh Direktur Strategi Teknologi Informasi PT. PLN (persero) , "penerapan ERP dan rencana kerja PLN sejalan dan telah tertuang di dalam sinkronisasi IT master plan dan strategi bisnis PLN" .
ERP merupakan satu kesatuan dengan Strategi Utama PLN dalam membenahi operasional perusahaan secara keseluruhan. Penerapan ERP saat ini masih bersifat Pilot Project dan baru dilaksanakan di empat unit yaitu: Kantor pusat PLN di jakarka, Kantor Distribusi Bali, kantor distribusi Jakarta Raya dan Tangerang, dan P3B Jawa Bali.
"Go-Live" ERP tahap I di PT PLN (persero) dilakukan pada tanggal 29 Desember 2005, terutama diterapkan modul-modul untuk menunjang bisnis proses di bagian Sumber Daya Manusia(SDM) seperti manajemen organisasi, administrasi kepegawaian, penggajian dan waktu kerja karyawan.
Penerapan ERP akan mendahulukan kantor yang telah menerapkan sistem pelayanan pelanggan terlebih dahulu, karena PLN sangat concern atas pelayanan pelanggan. jadi, integrasi antar sistem ini akan dilakukan lebih dulu di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, karena di daerah-dareah tersebut yang paling siap akan penerpan integrasi antar sistem tersebut.
Dukungan dari SDM
Kesulitan yang paling besar dari penerapan ERP adalah "People." Sesempurna apapun rancangan dan penerapan ERP, tidak akan berguna apabila tidak didukung oleh seluruh pegawai. Dibutuhkan kemauan yang besar dari seluruh pegawai untuk beradaptasi dengan perubahan sistem yang selama ini telah berjalan.menurut ketua tim Change Management Proyek Implementasi ERP, Rully Fasri, kendala terbesar dalam menerapkan ERP adalah merubah pola pikir yang selama ini terbentuk dari seluruh karyawan untuk menerima sebuah perubahan. Tanpa adanya pola pikir yang baru, menurut Rully, ERP tidak akan memberikan manfaat bagi perusahaan.
Pengimplementasian ERP
IT Master Plan PLN dibuat pada tahun 2004, bentuk riil PLN dari rencana tersebut adalah mengembangkan IT secara bertahap ditubuh PLN, seperti membangun sistem informasi secara on-line menghubungkan kantor pusat dan kantor cabang yang centralized serta membangun sistem jaringan yang handal untuk mendukung pembangunan Sistem tersebut.
Pada tahap awal penerapan ERP, PLN menerapkan di tiga bidang yaitu: divisi keuangan, divisi logistik dan divisi sumberdaya manusia. Ujicoba Pilot project dilakukan di kantor PLN distribusi Jakarta Raya & Tangerang, distribusi Bali, dan kantor Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban Jawa-Bali.
Dengan pertimbangan khusus, PLN memilih SAP sebagai paket perangkat lunak ERP, dan bekerja sama dengan Accenture sebagai perusahaan konsultan penerapan ERP. Bisnis Proses PLN yang sangat spesifik dan berbeda dari perusahaan listrik di dunia yang lain, maka beberapa modul pada sistem ERP perlu di sesuaikan dengan kebutuhan dari PLN itu sendiri.
Tim pembentuk ERP di PLN
PLN membentuk Tim Imbangan Pilot ERP yang terdiri dari orang-orang yang ahli di bidangnya terutama pada bisnis proses di PLN dan kultur budaya kerjanya. Mereka dituntut untuk bekerja keras dalam melakukan perbahan serta menyediakan waktu untuk melaksanakan proyek tersebut diluar waktu sebagai karyawan.Tim Imbangan ini bertanggung jawab langsung kepada Direksi PLN via Direktur keuangan dan direktur niaga dan pelayanan pelanggan.
Tugas Utama dari Tim Imbangan ini adalah menyukseskan pelaksanaan penerapan ERP di PLN pusat beserta ujicoba pilot project di 3 kantor PLN yang telah disebutkan diatas, dan mempersiapkan kebutuhan akan pengembangan lanjutan yaitu integrasi antar sistem.
Tim ini terdiri atas 2 tim
1. tim Sentral, beroperasi di kantor pusat, beranggotakan atas wakil dari PLN pusat dan unit pilot.
2. Tim Roll-Out, merupakan representasi dari Tim Sentral, yang beranggotakan atas wakil-wakil dari unit PLN yang bekerja di lokasinya masing-masing.
Go-Live Sistem
Ada 3 tahap perencanaan "Go-Live" sistem di PLN
1.tanggal 29 Des 2005, tahap menerapkan sebagian fungsi di bagian unit bisnis SDM seperti seperti penggajian, administrasi, manajemen organisasi, dan manajemen waktu di kantor pusat PLN, PLN distribusi Jakarta Raya & tangerang, bali dan P3B Jawa-Bali.
2.tanggal 1 april 2006, tahap menerapkan fungsi logistik dan keuangan di PLN pusat dan PLN distribusi Bali.
3.tanggal 1 juli 2006, tahap menerapkan fungsi logistik, keuangan dan SDM di PLN distribusi Jakarta Raya & Tangerang dan P3B Jawa-Bali.
Perubahan Utama pada penerapan ERP di PLN
penerapan ERP di PLN sedikit-banyak telah merubah proses bisnis PLN secara keseluruhan terutama di bidang SDM disetiap unit pilot project PLN.
Perubahan tersebut adalah seperti berikut:
> Manajemen Organisasi:
- struktur organisasi dan perinciannya dikelola pada suatu sistem.
- perubahan organisasi harus disetujui dan dikoordinasikan oleh kantor pusat PLN
- jabatan dalam organisasi akan dikelompokkan berdasarkan kesamaan tugas dari jabatan-jabatan di perusahaan.
> Administrasi pegawai
- tanggal pada surat penggajian harus konsisten
- pengelolaan informasi keluhan dan kedisiplinan pegawai dapat dilakukan di dalam sistem
- perpindahan pegawai dapat dimonitor di dalam sistem
> Administrasi Waktu Kerja
- Manajemen data berkaitan dengan waktu kerja pegawai termasuk waktu lembur dan lain sebagainya dilakukan tersentralisasi didalam sistem
> Penggajian
- proses penggajian akan dipusatkan di kantor pusat tiap unit
- data tentang administrasi penggajian di kerjakan di kantor unit bersangkutan
- data tentang penggajian harus diintegrasikan dengan bagian keuangan, agar memudahkan bagian pembukuan untuk mencatat penggajian
ERP
dan Strategi Bisnis PLN)
Untuk mendukung Strategi Bisnis PLN, maka diperlukan
solusi ERP yang akan diimplementasikan ke seluruh unit PLN. Hal ini
sesuai dengan Perencanaan IT Master Plan PLN (ITMP) dimana ERP merupakan salah
satu alat untuk melakukan transformasi PLN menjadi perusahaan listrik kelas
dunia yang cost competitive.
Implementasi
SAP ERP di PLN
Beberapa
hal yang menjadi alasan implementasi SAP ERP di PT. PLN (Persero) antara lain :
1. PT.
PLN (Persero) membutuhkan standarisasi proses bisnis melalui sistem “back
office” yang terpadu (integrated system)
2. Untuk
mengadopsi Utility Best Practices
3. PT.
PLN (Persero) Mendapatkan pengoperasian dan mekanisme pengawasan dan
pengendalian proses bisnis yang lebih baik dengan adanya sistem “back office”
yang standard
4. Untuk
memperoleh akses informasi dari unit-unit bisnis terkait secara real time
5. Saat
ini Implementasi SAP ERP di PT. PLN (Persero) sudah meliputi Kantor
Pusat,P3B Jawa Bali,Distribusi Bali, Distribusi Jakarta
Raya& Tangerang, Distribusi Jawa Tengah & DI Yogyakarta,
Distribusi Jawa Timur, dan Distribusi Jawa Barat & Banten.
Roll
Out ERP
Historical and Plan :
Awalnya SAP diimplementasikan di PT. PLN (Persero) Kantor Pusat, Distribusi
Jakarta Raya & Tangerang, P3B Jawa Bali, dan Distribusi Bali sebagai pilot
project.Proyek ini pun berlanjut pada tahun 2007-2008 dengan me-roll out SAP se
Jawa Bali dengan implementasi pada Distribusi Jawa Barat & Banten,
Distribusi Jawa Tengah & DI Yogyakarta, dan Distribusi Jawa Timur.Untuk ke
depannya, PT. PLN (Persero) menjadwalkan roll-out Sumatera dan Sulawesi pada
2010-2013 dan roll-out Kalimantan dan Indonesia Timur pada tahun 2013-2015.
source: http://deniluthfianto.blogspot.co.id/2012/10/contoh-penerapan-erpenterprise-resource.html
2. BI ( Business intelligence )
BI ( Business intelligence ) adalah proses mengekstrak, transformasi,
mengelola, dan menganalisis data bisnis untuk mendukung pengambilan keputusan
(Niu). Dalam proses ini pada umumnya melibatkan data set dalam jumlah
besar yang tersimpan dalam datawarehouse. Proses
business intelligence meliputi
lima tahapan :
1.
Pengumpulan data. Sistem business intelligence dapat mengekstrak data dari
beberapa sumber data yang berasal dari berbagai unit bisnis seperti pemasaran,
produksi, sumber daya manusia, dan keuangan. Data yang sudah diekstrak harus
dibersihkan, transformasi, dan terintegrasi untuk dapat dianalisis.
2.
Analisis data. Pada tahapan ini, data dikonversi
menjadi informasi atau pengetahuan melalui berbagai macam teknik analisis
seperti laporan, visualisasi, dan data mining. Hasil dari proses analisis dapat membantu
pihak manajemen untuk memahami situasi dan mengambil keputusan yang lebih baik.
3.
Kesadaran situasi. Kesadaran terhadap situasi dapat
memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap keadaan keputusan saat ini
berdasarkan hasil analisis data.
4.
Penilaian resiko. Kesadaran terhadap situasi yang cukup
bervariasi dapat membantu manajer untuk memprediksi masa depan, identifikasi
ancaman dan peluang, dan merespon sesuai dengan kebutuhan. Saat ini bisnis
beroperasi dalam kondisi lingkungan yang kompleks. Pengambilan keputusan bisnis
lebih mungkin disertai resiko yang berasal dari lingkungan eksternal dan
internal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penilaian resiko merupakan fungsi
penting pada sistem business intelligence.
5.
Dukungan pengambilan keputusan.
Tujuan utama dari business intelligence adalah
membantu manajer mengambil keputusan dengan bijaksana berdasarkan data bisnis
saat ini.
Arsitektur Sistem Business Intelligence
Menurut Inmon (2002) yang dikutip
oleh Niu (2009), pada umumnya sistem business intelligenceterdiri dari empat level komponen
dan modul manajemen metadata. Arsitektur
general dari sistembusiness intelligence terlampir pada gambar 1.
Komponen-komponen saling berinteraksi untuk memfasilitasi fungsi dasar business intelligence: mengekstrak data dari
sistem operasional perusahaan, menyimpan data yang sudah diekstrak
kedalam datawarehouse, dan menarik data yang disimpan untuk
berbagai aplikasi analisis bisnis.
·
Level Sistem
Operasional.
Sebagai sumber data dari sistem business intelligence, sistem operasional bisnis
pada umumnya menggunakan sistem online transaction processing
(OLTP) untuk mendukung kegiatan bisnis sehari-hari. Pada
umumnya sistem OLTP adalah sistem penerimaan order pelanggan, sistem keuangan, dan
sistem sumber daya manusia.
·
Level
akuisisi data.
Pada level ini adalah komponen pra proses terdiri dari
3 tahapan yaitu : ekstraksi, transformasi, dan memasukkan (ETL). Sebuah
perusahaan memiliki beberapa sistem OLTP yang menghasilkan jumlah data yang sangat
besar. Data tersebut pertama kali diekstrak dari sistem OLTP oleh proses ETL
dan kemudian ditransformasi sesuai dengan aturan transformasi. Apabila data
yang sudah ditransformasi maka data tersebut dimasukkan ke data warehouse. ETL merupakan komponen dasar dari
sistem business intelligence karena kualitas data dari
komponen lain tergantung pada proses ETL. Dalam perancangan dan pengembangan
ETL, kualitas data, fleksibilitas sistem dan kecepatan proses adalah perhatian
utama.
·
Level
penyimpanan data.
Data yang telah diproses oleh komponen ETL disimpan
dalam data warehouse dimana biasanya diimplementasikan
dengan menggunakan tradisional sistem manajemen database
(RDMS). RDMSdidesain untuk mendukung proses transaksi, sangat
bertolak belakang dengan data warehouseberfokus
kepada subyek, varian waktu dan disimpan secara terintegrasi. Skema star dan snowflakemerupakan
skema data warehouse yang paling populer. Apapun skema
yang dipakai, tipe tabel pada data warehouse adalah fact tables dan dimension tables.
·
Level
analitis.
Berdasarkan data warehouse,
berbagai macam aplikasi analitikal telah dikembangkan. Sistembusiness intelligence mendukung 2 tipe dasar dalam
fungsi analitikal: pelaporan dan online analytical processing
(OLAP). Fungsi pelaporan menyediakan manajer berbagai jenis laporan
bisnis seperti laporan penjualan, laporan produk, dan laporan sumber daya
manusia. Laporan dihasilkan dari menjalankan queries kedalam data warehouse. Data warehouse queries pada
umumnya sudah didefinisikan oleh pengembang data warehouse. Laporan
yang dihasilkan oleh sistem business intelligence biasanya
memiliki format yang statis dan berisi tipe data yang pasti.
Analitikal business intelligence yang
paling menjanjikan adalah OLAP. Menurut Codd et al (1993) yang dikutip oleh Niu
(2009), OLAP memungkinkan manajer untuk secara efisien mendalami data bisnis
dari berbagai dimensi analisis melalui operasi pengirisan, pemotongan dan
pendalaman. Sebuah analisis dimensi merupakan perspektif melalui bagaimana data
tersebut dipresentasikan, sebagai contoh: tipe produk, lokasi penjualan, waktu
dan pelanggan. dibandingkan dengan fungsi laporan, OLAP mendukung analisis data
sesuai dengan kebutuhan. OLAP merupakan model datamultidimensional yang
dikenal sebagai skema snowflake dan star. Sebagai tambahan dari laporan dan OLAP,
terdapat banyak tipe analitikal yang lain yang dapat dibuat berdasarkan
sistem data warehouse seperti data mining, executive dashboards, customer relationship
management, danbusiness performance
management.
·
Manajemen metadata.
Metadata merupakan data khusus mengenai data lain seperti
sumber data, penyimpanan data warehouse, peraturan
bisnis, otorisasi akses, dan bagaimana
data diekstrak dan ditransformasi.Metadata sangat
penting dalam menghasilkan informasi yang akurat, konsisten dan pemeliharaan
sistem. Manajemen metadata mempengaruhi semua
proses dari perancangan, pengembangan, pengujian, penyebaran dan penggunaan
sistem business intelligence.
Gambar 1. Arsitektur sistem business intelligence secara umum
Sumber : Niu, 2009
Contoh
Penerapan BI
Ø
Business
intelligence pada industri
perbankan
Penerapan business intelligence pada
industri perbankan merupakan kunci sukses dalam mengefisiensikan dan
mengefektifkan kegiatan bisnis utama dengan kemampuan dalam mendapatkan,
mengelola dan menganalisa data nasabah, produk, layanan, kegiatan operasi,
pemasok dan rekan kerja dalam jumlah yang sangat besar. Contoh penerapan business intelligencepada
industri perbankan adalah customer relationship management, customer credit analysis, risk
management, credit card analysis, customer segmentation, dll (Hair, 2007), (Dan,
2008). Perananbusiness intelligence dalam
kegiatan bisnis dapat menyediakan layanan yang lebih personal kepada pelanggan
dan secara radikal meningkatkan kualitas servis dari bank tersebut. Pengelola
produk perbankan bersaing dalam mendesain produk dan layanan yang dapat
menjawab setiap kebutuhan suatu segmen tertentu.
Salah
satu penerapan customer credit analysis adalah penerapan model penilaian
kredit nasabah (Ince & Aktan, 2009). Penilaian kredit nasabah merupakan
kegiatan paling penting untuk mengevaluasi aplikasi pinjaman yang diajukan oleh
nasabah. system penilaian kredit digunakan untuk memodelkan potensi resiko dari
aplikasi pinjaman, dimana system tersebut memiliki keuntungan karena dapat
menangani aplikasi pinjaman dalam jumlah besar dengan cepat tanpa membutuhkan
sumber daya yang banyak sehingga dapat menurunkan biaya operasional dan efektif
dalam mengurangi penalaran dalam pengambilan keputusan. Dengan persaingan dan
pertumbuhan pasar kredit konsumen, para pemain di industri perbankan saling
berlomba untuk mengembangkan strategi yang lebih baik berkat bantuan penerapan
model penilaian kredit. Tujuan dari penilaian kredit adalah memberikan kemampuan
kepada bagian analisa kredit untuk menentukan aplikasi pinjaman nasabah yang
diterima dari pihak marketing bank termasuk “kredit yang baik” dimana para
nasabah yang termasuk dalam kategori tersebut memiliki kemungkinan yang cukup
besar untuk membayar kewajiban finansialnya kepada bank atau “kredit yang
jelek” dimana para nasabah yang termasuk dalam kategori tersebut memiliki
kemungkinan yang cukup besar untuk memenuhi kewajiban finansialnya. Berdasarkan
hasil studi yang dilakukan oleh Huseyin Ince dan Bora Aktan (2009), peneliti
membandingkan kinerja dari model penilaian kredit menggunakan pendekatan
tradisional dan artificial intelligence (discriminant analysis, logistic
regression, neural networks, classification, and regression tree). Penelitian percobaan dengan
data riil telah mendemonstrasikan bahwa classification, regression tree, dan
neural networks mengalahkan kinerja model penilaian kredit secara tradisional
dalam hal prediksi keakuratan dan type II errors.
Analisis terhadap data pelanggan merupakan kunci utama
bagi pihak manajemen bank untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal. Dengan
menggunakan konsep pareto, bahwa dengan mendesain produk dan layanan
kepada 20% nasabah dapat memberikan hasil sebesar 80% terhadap keuntungan.
Pihak manajemen mempercayai bahwa dengan menganalisa 20% nasabah tersebut
merupakan langkah yang efektif dalam meningkatkan keuntungan dan menurunkan
biaya operasional. Selain kasus diatas, pihak manajemen bank dapat menganalisis
pemasaran kartu, perhitungan harga jual dan tingkat keuntungan terhadap
pemillik kartu, deteksi terhadap potensi kecurangan, prediksi manajemen daur
hidup nasabah. Segmentasi pelanggan merupakan salah satu strategi pemasaran
yang efektif, dengan memahami karakteristik dan kebutuhan setiap segmen nasabah
maka pihak manajemen dapat mendesain bagaimana cara memasarkan, harga,
kebijakan untuk setiap produk dan layanan sehingga dapat memberikan keuntungan
yang maksimal (Mawoli & Abdulsalam, 2012). Dengan penerapan business intelligence dalam proses segmentasi nasabah
menjadi lebih mudah karena pihak manajemen dapat dengan mudah mengidentifikasi
demografi dan geografi nasabah tetapi pihak manajemen harus meluangkan waktu
dan tenaga apabila ingin mengetahui psikografi dan perilaku nasabah dan pihak
manajemen perlu mengidentifikasi atribut-atribut yang diperlukan seperti umur,
pekerjaan, penghasilan dan jenis kelamin dengan mudah dan pada umumnya dapat
diukur dengan RFV (recency, frequency, dan value dari
perilaku transaksi mereka) (Sun, 2009), (Lin, Zhu, Yin, & Dong, 2008).
Dapat disimpulkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan
nasabah yang makin komplek dan efisiensi bisnis proses dengan otomatisasi
kegiatan operasional membutuhkan dukungan sistem informasi. Sistem informasi
perbankan perlu tetap dikembangkan sehingga dapat memenuhi kebutuhan nasabah
dan mengikuti inovasi bisnis, akan tetapi perlu adanya integrasi dengan sistem business intelligence sehingga pihak manajemen
mendapatkan informasi yang up-to-date dan insight dari
data historis.,
Ø
Business
intelligence pada industri
retail
Mengamati pertumbuhan industri retail di Indonesia, customer relationship
management (CRM)sebagai pemicu utama dalam pelaku bisnis yang cerdik
untuk mendesain ulang fokus bisnis mereka pada pelanggan. Perusahaan retail
pada umumnya memiliki pelanggan yang besar dan pada umumnya pelanggan memiliki
keinginan yang berbeda-beda. Dengan adanya implementasi CRM maka pihak
manajemen dapat mengotomatisasi interaksi dengan pelanggan dan tim penjualan
serta dapat menganalisis data pelanggan yang diperoleh dari POS transaction,
layanan pelanggan, dan lain-lain sehingga pihak manajemen dapat mendapatkan insight terhadap kebutuhan
pelanggan dan mengembangkan hubungan one-to-one dengan
pelanggan, desain dan kampanye promosi, optimalisasi tata letak produk. Analytical CRM menggunakan business intelligence tools seperti data warehousing, data mining, dan OLAP.
Beberapa penggunaan dari analytical CRM adalah customer segmentation,
campaign/promotion effectiveness analysis, customer lifetime value, customer
loyalty analysis, cross selling, product pricing, and target
marketing (Hair, 2007). Beberapa
perusahaan retail mulai mengajak para pembeli yang belum menjadi member dengan menerbitkan member card,bekerja
sama dengan bank dengan memberikan potongan harga, dll. Pihak manajemen mulai
menyadari pentingnya mendapatkan data pelanggan yang komprehensif, dimana data
tersebut dapat memberikan informasi seperti karakteristik pelanggan (umur,
jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan per bulan),
perilaku pelanggan (masukan dari pelanggan terkait produk dan layanan,
rekomendasi dari pelanggan terkait produk dan layanan, produk subsitusi yang
digunakan oleh pelanggan, loyalitas pelanggan terhadap layanan suatu merk suatu
produk) , dan pengeluaran pelanggan (harga pembelian, kuantitas, frekuensi
pembelian yang berulang, keinginan pelanggan membeli produk yang lain dan
layanan dari produsen tertentu, dll) (Zhou & Lei, 2011). Berdasarkan
segmentasi pelanggan yang dilakukan oleh Shuwen Zhou dan Guanghong Lei (2011)
dapat disimpulkan bahwa:
1.Kategori
1 merupakan pelanggan-pelanggan yang bekerja di perkantoran sebagai profesional
dan manajer dan memiliki pendidikan yang cukup tinggi, memiliki rumah dan
mobil. Berdasarkan informasi yang didapat, pelanggan pada kategori ini belum
memiliki bayi, pendapatan tahunan tidak terlalu tinggi tetapi mereka menyukai
berbelanja terutama “fashion”. Fokus konsumsi pada kategori ini adalah kosmetik
yang berkualitas tinggi, CD orisinal, majalah dan produk peralatan rumah tangga
pada umumnya. Pada umumnya mereka tidak tertarik membeli makanan dan minuman
karena penghasilan yang cukup tinggi. Strategi marketing yang cocok untuk
kategori ini adalah memberikan kualitas produk dan layanan yang lebih tinggi
untuk menarik pelanggan karena pelanggan yang berada dikategori ini tidak
terlalu tertarik dengan potongan harga.
2.Kategori
2 merupakan pelanggan-pelanggan yang bekerja di pabrik sebagai pekerja dan
mekanik, dan memiliki penghasilan yang cukup rendah, beberapa memiliki rumah,
berbelanja makanan, keperluan rumah tangga, produk balita. sebagian besar
merupakan wanita yang suka ke supermarket untuk membeli lebih banyak barang.
Pada umumnya mereka tertarik terhadap diskon promosi, sehingga keuntungan tidak
terlalu tinggi.
3.Kategori
3 merupakan pelanggan yang memiliki pendidikan rendah, penghasilan rendah yang
hampir sama dengan pekerja pabrik. Pada umumnya mereka membeli komoditas lebih
banyak pada saat diskon yang cukup besar. Strategi pemasaran untuk kategori ini
adalah memberikan diskon promosi terhadap komoditas tersebut sehingga lebih
menarik pelanggan.
Table 1. Contoh beberapa tipe dari segmentasi pelanggan supermarket di china
Penerapan business intelligence (BI) dalam area CRM, BI dapat
diaplikasikan pada supply chain management (SCM). Dengan menerapkan SCM,
manajemen perusahaan dapat mengefisiensikan control terhadap persediaan dan
proses pembelian kepada pemasok. Data yang diperoleh pada proses pembelian dan
persediaan dapat memberikan berbagai macam insight yang
cukup komprehensif terhadap dinamika dalam rantai persediaan. Penerapan data
warehouse pada SCM dapat membantu pihak manajemen untuk menganalisis kinerja
pemasok, mengontrol tingkat persediaan (safety stock, lot size, dan lead time analysis),
pergerakan produk, peramalan permintaan, dll.
Penerapan BI dalam alternative sales channel dapat meningkatkan efektivitas dalam
mengelola berbagai jenis distribution channel seperti
melalui internet, katalog, dll. Dengan kemajuan teknologi saat ini menyebabkan
seorang pelanggan dapat berinteraksi dengan perusahaan melalui berbagaichannel dalam
satu periode. Sebagai contoh perkembangan tablet dan smartphone menyebabkan
pihak manajemen perlu mengembangkan m-channel sehingga
dapat memberikan tambahan pilihan kepada pelanggan untuk mengakses perusahaan
mereka. Aplikasi dari BI dalam alternative sales channel adalah E-business analysis, web log
analysis, referrer analysis, error analysis, keyword analysis, web housting,
channel profitability, dan product-channel affinity.
Ø
Business
intelligence pada industri
pendidikan
Saat ini penerapan business intelligene pada
industri pendidikan masih relatif sedikit apabila dibandingkan dengan industri
perbankan, kesehatan, asuransi, dll (Lihua, Yongsheng, & Zhonglei, 2008).
Penerapan business intelligence pada
industri pendidikan dapat dilakukan pada proses penerimaan mahasiswa baru,
manajemen pengajaran, dll (Rebbapragada, Basu, & Semple, 2010), (Liu
& Zhang, 2010). Menurut Rebbapraga (2010), persaingan untuk
penerimaan siswa baru semakin ketat setiap tahun dengan sebagian besar kampus menerima
aplikasi penerimaan siswa dan makin selektif dalam penerimaannya. Tingkat
penerimaan pada kampus ternama mencapai 10% dan ketidakpastian menyebabkan
siswa yang memiliki talenta melamar pada sekolah pada lapisan yang berikutnya.
Hal ini menyebabkan siswa memasukkan aplikasi ke beberapa sekolah dan setiap
sekolah memiliki tenggat waktu yang berbeda. Akibatnya siswa sering menghadapi
dilema pada saat mereka kehabisan waktu untuk menerima tawaran dari universitas
yang lebih rendah dari prioritas mereka. Tantangan dalam admisi proses adalah
proses mengidentifikasi pelamar terbaik meliputi beberapa parameter dan saat
kandidat yang diinginkan teridentifikasi maka keputusan untuk menawarkan
penawaran serta komposisi dari penawaran tersebut cukup susah. Selain dapat
digunakan dalam proses penerimaan mahasiswa, penerapan data mining dapat digunakan untuk
mendukung manajemen pengajaran. Setiap universitas mengelola nilai mahasiswa
dalam jumlah besar dari berbagai fakultas yang berbeda-beda. Dengan adanya
penerapan data warehouse dan
menganalisa data tersebut dengan menggunakan berbagai teknik data mining, pihak
pengelola fakultas dapat mengeksploitasi berbagai informasi tersembunyi dan
dapat melakukan peramalan dan analisis sehingga pengelola fakultas dapat
menggunakannya untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pengetahuan.
Menurut Rebbapragada et al (2010), para peneliti yakin
bahwa data
mining dan teknik
manajemen penghasilan dapat digunakan secara efektif untuk menyelesaikan
masalah tersebut. Dengan menggunakan data mining untuk
mengembangkan model yang dapat memprediksi kualitas dari pelamar dengan
menggunakan data kinerja siswa pada masa lalu berdasarkan kinerja siswa pada
tahun pertama dalam hal GPA yang diperoleh dan beberapa parameter penting
yang dikumpulkan dari data pelamar seperti high school GPA, SAT math score, SAT verbal score, strength of
curriculum, adjusted GPA, adjusted test scores, subjective score and overall
assessment score.Penelitian ini menggunakan metode neural networks karena memiliki kinerja yang lebih
baik dibandingkan decision trees, disamping itu kemampuan neural networks dalam beradaptasi dengan
perubahan kondisi membuat metode ini cocok dengan konteks penerimaan siswa
baru. Model manajemen penghasilan sudah banyak digunakan oleh perusahaan di
industri penerbangan dan hotel, teknik ini dapat memaksimalkan penghasilan
dengan mengumpulkan harga terbaik untuk setiap bangku/sumber daya meskipun
terdapat ketidakpastian terhadap permintaan dimasa yang akan datang.
Pada penelitian ini menggunakan model yang dinamis yaitu markovian periods karena memiliki kemampuan untuk menangani permintaan yang datang secara acak. Tabel harga penawaran dapat digunakan sebagai referensi oleh staf admisi untuk menerima atau menolak aplikasi dari calon siswa. Tabel 1 menyediakan asumsi jumlah aplikasi yang diterima setiap minggu untuk tiga kategori selama 4 minggu, jumlah aplikasi tersebut termasuk pelamar yang diterima dan ditolak. Tabel 2 menunjukkan tabel harga penawaran untuk periode waktu dengan penambahan 4000, setiap pengumpulan 4000 periode sekitar 3.3 hari.
Tabel 1. Jumlah aplikasi yang diterima setiap minggu
Sumber : Surya Rebbapragada, at all, 2010
Tabel 2. Tabel penawaran harga.
Sumber : Surya Rebbapragada, at all, 2010
Dengan menggunakan pendekatan diatas, pihak universitas dapat langsung mengambil keputusan terhadap semua pendaftaran siswa dan pada saat yang bersamaan dapat memaksimalkan proses penerimaan dengan menerima mahasiswa terbaik pada kapasitas yang ditawarkan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Zhiwu Liu dan Xiuzhi Zhang (2010), mereka menganalisis nilai mahasiswa dari beberapa mata kuliah industrial enterprise electrification di sebuah universitas untuk mengetahui koneksi nilai dari beberapa mata kuliah yang berbeda melalui teknikdecision tree. tabel 3 merupakan database nilai mahasiswa berisi no urut mahasiswa, dan hasil dari beberapa mata kuliah utama (fundamental of electrical engineering-FEE, electrical machine and drive-EMD, automatic control principle-ACP, automatic control system-ACS, and higher mathematic-HM).
Tabel 3. Nilai dari mahasiswa
Sumber : Liu dan Zhang, 2010
Untuk memudahkan untuk melakukan data mining, data pada tabel 3 sebaiknya dirubah dengan kondisi sebagai berikut: jika nilai dibawah 60 maka diisi dengan 0 (tidak lulus) dan jika nilai diatas 60 maka diisi dengan 1 (lulus). Dengan menggunakan algoritma decision tree C4.5,
1.Jika nilai mata kuliah FEE (A) lulus, maka nilai mata kuliah ACS(C1) pada umumnya lulus. Tingkat akurasinya adalah 86.4% dan covering rate untuk jumlah mahasiswa adalah 59.5%.
2.Jika nilai mata kuliah FEE (A) tidak lulus, dan nilai mata kuliah EMD (B) juga tidak lulus, maka nilai mata kuliah ACS (C1) pada umumnya tidak lulus. Tingkat akurasinya adalah 85.7% dan covering rate untuk jumlah mahasiswa adalah 10%.
3.Jika nilai mata kuliah FEE (A) tidak lulus, tetapi nilai mata kuliah EMD (B) lulus, maka nilai ACS (C1) masih bisa lulus. Tingkat akurasinya adalah 81.25% dan covering rate untuk jumlah mahasiswa adalah 30.5%.

Gambar 1. Decision tree untuk mengevaluasi nilai mahasiswa
Sumber : Liu dan Zhang, 2010
Dengan pendekatan diatas dalam mengevaluasi nilai mahasiswa, maka pengelola fakultas dapat melihat hubungan antara kinerja mahasiswa terhadap mata kuliah FEE, ACS, dan EMD. Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan, pengajar mata kuliah EMD perlu memberikan perhatian yang lebih kepada mahasiswa yang tidak lulus EMD dan ACS.
source : http://sis.binus.ac.id/2013/05/27/penerapan-business-intelligence-pada-industri-perbankan-retail-dan-pendidikan/










0 comments:
Post a Comment