DEFINISI ENTITIY RESOURCE PLANNING DAN PENERAPANNYA
Enterprise
Resource Planning (ERP) merupakan suatu cara untuk mengelola sumber daya
perusahaan dengan menggunakan teknologi informasi (Spathis and Constantinides,
2003). Penggunaan teknologi ERP dilengkapi dengan hardware dan software untuk menunjang konektivitas dan
aliran informasi. Teknologi ini berfungsi untuk mengkoordinasi dan
mengintegrasikan data informasi pada setiap area business
processes sehingga menghasilkan pengambilan keputusan yang
cepat karena menyediakan analisa dan laporan keuangan yang cepat, laporan
penjualan yang on time, laporan
produksi dan inventori (Gupta, 2000).
Manfaat ERP
Dengan
menerapkan sistem informasi ERP, manfaat yang dapat dirasakan yaitu:
- Dengan sistem yang terintegrasi maka proses pengambilan keputusan akan lebih efektif dan efisien.
- Dengan menerapkan ERP ada kemungkinan melakukan integrasi secara global. Sehingga perbedaan – perbedaan yang terjadi dalam bisnis internasional dapat diintegrasikan.
- ERP menghilangkan kebutuhan pemutakhiran dan koreksi data pada banyak sistem komputer yang terpisah.
- ERP memberikan lingkup kerja manajemen tidak hanya memonitor saja tetapi melakukan manajemen operasional juga.
- Supply chain management dapat terbantu sehingga pelaksanaannya dapat berjalan dengan lancar.
Fungsi Dasar ERP
1. Mendefinisikan Produk:
ada 2 pendekatan definisi yang digunakan, yaitu: pertama, standard product,yakni produk mengalami permintaan berulang dan ada inventori; kedua, custom product,yakni produk
dibuat berdasarkan pesanan dan pembelian material disesuaikan dengan jumlah
order.
2. Strategi produksi untuk
mengantisipasi kebutuhan sesuai permintaan.
Ada dua kategori yang disarankan yakni make to stock dan make to order. Make to stockhanya dipakai untuk standard product sedangkan make to order digunakan pada kedua definisi
produk yakni standard product dan custom product. Perbedaan pada strategi
produksi make to order adalah adanya tenggang
waktu yang lebih lama antara pengiriman produk dan proses produksi
3. Menentukan Tipe
hubungan antara sales order dan supply order.
Apabila menggunakan strategi produksi make to order untuk memenuhi permintaan
pelanggan, maka didapatkan suatu tipe hubungan langsung antara sales order dengan kebutuhan material.
Yakni, ketika order bertambah, maka material yang dibutuhkan juga akan
bertambah. Penentuan tipe hubungan, berfungsi untuk menentukan kapan material
dibutuhkan, berapa jumlah material yang dibutuhkan, apakah masih ada stok
material dan masih perlu dilakukan order kebutuhan material.
4. Pendekatan terhadap proses
produksi praktis.
Pendekatan proses produksi secara praktis bertujuan untuk
mengurangi tenggang waktu dalam melaksanakan proses produksi. Pengurangan ini
dapat dilakukan dengan menyederhanakan alur proses material dan rute pengerjaan
produk di lantai produksi.
5. Pendekatan sistem
penjadwalan yang baik.
Kemampuan untuk menentukan penjadwalan secara baik di industri
manufaktur sangat dipengaruhi oleh kedinamisan dari jadwal yang ditentukan.
Kedinamisan ini dipengaruhi oleh jumlah order, ukuran order, kapasitas
produksi, keterbatasan sumber daya perusahaan dan aturan-aturan lainnya.
Agar penerapan ERP berbuah
maksimal
Sistem
ERP sebagai hasil buatan manusia tidak selamanya bermanfaat bagi setiap
penggunaanya. Dalam penerapannya, sekitar 10% sampai dengan 40 % dari
penggunaan ERP ini mengalami kegagalan. Untuk mengatasinya ada beberapa hal
penting yang harus dilakukan supaya penerapan ERP berhasil. Diantaranya:
- Pemahaman yang jelas atas sasaran strategis perusahaan
- Komitmen dari seluruh jajaran manajemen
- Manajemen implementasi proyek yang baik
- Mampu mengatasi isu-isu teknik
- Tim implementasi yang baik
- Rekayasa ulang proses bisnis
- Komitmen organisasi untuk berubah
- Pendidikan dan pelatihan yang intensif
- Data yang akurat
- Sosialisasi dan komunikasi yang intensif
- Pengukuran kinerja yang jelas fokusnya
Kelebihan dan kekurangan ERP
ERP
sebagai sebuah sistem tentunya memiliki kelebihan dan kelemahan. Penjelasannya
dapat dilihat pada tabel di bawah.
Tabel 1. Kelebihan dan kekurangan ERP
Contoh Penerapan ERP di Perusahaan
Melihat
benefit yang akan didapatkan dengan mengimplementasikan sistem ERP dalam
manajemen sumber daya dan juga kapabilitasnya untuk diterapkan di berbagai tipe
perusahaan, banyak diantara perusahaan-perusahaan di Indonesia yang tertarik
untuk menerapkannya. Untuk penerapan ERP, vendor yang biasa digunakan di
Indonesia adalah Oracle dan SAP. Berikut adalah testimoni perusahaan agribisnis
yang menerapkan sistem ERP di Indonesia.
Testimoni PT. Sosro
“Kami
sungguh merasakan berbagai bentuk efisiensi setelah melakukan komputerisasi
dengan pendekatan ERP,” kata Hugo Winanto, Manajer Teknologi Informasi PT Sinar
Sosro, yang kita kenal dengan produk Teh Botol Sosro. Winanto mengaku
perusahaan itu sudah merancang untuk mengintegrasikan sistem komputernya sejak
tahun 1999. Semula, menurut dia, ada dua jaringan komputer terpisah, yakni
jaringan komputer unit produksi, dan jaringan komputer unit distribusi. Dua
jaringan tersebut terpisah karena pada mulanya keduanya adalah unit bisnis yang
memang terpisah. “IT kedua unit itu sudah dimerger sejak sebelum kedua unit
usaha tersebut dimerger,” kata Winanto.
Saat
ini PT Sinar Sosro, sedang menangani proses integrasi jaringan komputer seluruh
unit kerja perusahaan itu. “Kami mempunyai delapan pabrik, sembilan kantor
cabang besar dan lebih dari seratus stockist, sehingga kami perlu
mengintegrasikan komputer yang tersebar di sekitar 140 tempat yang berbeda,”
kata Winanto. Dalam waktu dekat, menurut dia, seluruh 140 unit kerja itu sudah
akan tergabung dalam satu sistem yang terintegrasi menggunakan database dan
aplikasi yang disediakan oleh Oracle. Walaupun proses integrasi antara unit
produksi dengan unit distribusi belum sepenuhnya tuntas, Winanto mengaku manajemen
sudah mendapatkan banyak sekali manfaat dari sistem online yang sudah berhasil
dicapai di masing-masing jalur.
Dulu
misalnya, perlu waktu yang sangat lama untuk mendapatkan berbagai data terbaru
perusahaan, misalnya data produksi, data stock barang atau data penjualan.
Kelambatan itu terjadi karena seluruh proses pengumpulan data dilakukan secara
manual. “Di pabrik dilakukan data entry, kemudian data direkap dan dikirim
melalui fax, dan di kantor pusat dilakukan konsolidasi setelah dilakukan data entry
lagi,” kata Winanto. Tetapi dengan sistem online semuanya berubah. Hari ini
kantor pusat sudah bisa mendapatkan data penjualan, data produksi, sampai
dengan stock barang per kemarin. Hal itu bisa terjadi karena hanya
diperlukan satu kali proses input data, dan seluruh proses konsolidasi
dilakukan oleh komputer.
Integrasi
ini, menurut Winanto, telah mendongkrak efisiensi perusahaan secara signifikan.
Kesalahan manusia (human error) dalam proses konsolidasi data kini bisa
diabaikan. Jumlah tenaga kerja sudah bisa dikurangi, dan kini sejumlah staf
sudah dialihkan untuk bidang kerja yang lain. “Dan yang pasti, walaupun belum
bisa paperless, tetapi pasti sudah less paper dalam manajemen perusahaan.”
Karena penyebaran unit kerja PT Sinar Sosro yang sedemikian luas, diperlukan
satu sistem jaringan yang sangat luas (wide area network, WAN), dan untuk itu
diperlukan layanan pihak ketiga untuk menyediakan layanan komunikasi data untuk
tujuan tersebut. Untuk layanan tersebut PT Sinar Sosro mempercayakan pada PT Lintasarta
Aplikanusa, perusahaan yang sudah puluhan tahun berkecimpung dalam bisnis
layanan komunikasi data.
Saat
ini Sinar Sosro menggunakan layanan Frame Relay untuk mengintegrasikan sistem
komputernya, tetapi perusahaan itu tengah mempertimbangkan untuk menggunakan
teknologi jaringan virtual privat berbasis Internet (VPN IP) yang juga
ditawarkan oleh Lintasarta. “VPN IP adalah teknologi baru yang lebih murah
tetapi bisa diandalkan, sehingga kami berencana untuk migrasi ke sana,” kata
Winanto. Ketika ditanya mengenai kualitas layanan Lintasarta, Winanto
mengatakan bahwa pihaknya cukup puas. “Kami sudah menggunakan layanan
Lintasarta sejak sebelum 1999, dan bukannya memuji kami cukup puas. Karena itu
setiap kali mau memperluas jaringan, kami selalu bertanya apakah
Lintasarta siap menyediakan jaringan untuk kami,” kata Winanto lagi.
Sumber:
PERANCANGAN
PENJUALAN DAN PERENCANAAN PRODUKSI YANG TERINTEGRASI DENGAN MENERAPKAN
TEKNOLOGI ENTERPRISE RESOURCES PLANNING (Studi Kasus Pada Perusahaan Furniture,
Consumer Good dan Elektronik) oleh Zeplin Jiwa Husada Tarigan, FTI UK Petra,
2011
STUDI
PUSTAKA DAN KASUS PENERAPAN ERP DALAM PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA
SERTA BEBERAPA PERUSAHAAN AGRIBISNIS oleh THEODORUS WIDIHASTO SETYADI
WICAKSONO, Magister Manajemen Agribisnis IPB, 2005
DEFINISI BUSINESS INTELLIGENCE DAN PENERAPANNYA
Menurut
Niu (2009), business intelligence adalah proses mengekstrak,
transformasi, mengelola, dan menganalisis data bisnis untuk mendukung
pengambilan keputusan. Dalam proses ini pada umumnya melibatkan data set dalam
jumlah besar yang tersimpan dalam datawarehouse. Proses business
intelligence meliputi lima tahapan :
1.Pengumpulan
data.
Sistem business
intelligence dapat mengekstrak data dari beberapa sumber data yang
berasal dari berbagai unit bisnis seperti pemasaran, produksi, sumber daya
manusia, dan keuangan. Data yang sudah diekstrak harus dibersihkan,
transformasi, dan terintegrasi untuk dapat dianalisis.
2.Analisis
data.
Pada
tahapan ini, data dikonversi menjadi informasi atau pengetahuan melalui
berbagai macam teknik analisis seperti laporan, visualisasi, dan data
mining. Hasil dari proses analisis dapat membantu pihak manajemen untuk
memahami situasi dan mengambil keputusan yang lebih baik.
3.Kesadaran
situasi.
Kesadaran
terhadap situasi dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap
keadaan keputusan saat ini berdasarkan hasil analisis data.
4.Penilaian
resiko.
Kesadaran
terhadap situasi yang cukup bervariasi dapat membantu manajer untuk memprediksi
masa depan, identifikasi ancaman dan peluang, dan merespon sesuai dengan
kebutuhan. Saat ini bisnis beroperasi dalam kondisi lingkungan yang kompleks.
Pengambilan keputusan bisnis lebih mungkin disertai resiko yang berasal dari
lingkungan eksternal dan internal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penilaian
resiko merupakan fungsi penting pada sistem business intelligence.
5.Dukungan
pengambilan keputusan.
Tujuan
utama dari business intelligence adalah membantu manajer
mengambil keputusan dengan bijaksana berdasarkan data bisnis saat ini.
Arsitektur Sistem Business
Intelligence
Menurut Inmon (2002) yang dikutip oleh Niu (2009), pada
umumnya sistem business intelligenceterdiri dari empat level
komponen dan modul manajemen metadata. Arsitektur general dari
sistem business intelligence terlampir pada gambar 1.
Komponen-komponen saling berinteraksi untuk memfasilitasi fungsi dasar business
intelligence: mengekstrak data dari sistem operasional perusahaan,
menyimpan data yang sudah diekstrak kedalam datawarehouse, dan
menarik data yang disimpan untuk berbagai aplikasi analisis bisnis.
Business intelligence pada industri perbankan
Penerapan business intelligence pada
industri perbankan merupakan kunci sukses dalam mengefisiensikan dan
mengefektifkan kegiatan bisnis utama dengan kemampuan dalam mendapatkan,
mengelola dan menganalisa data nasabah, produk, layanan, kegiatan operasi,
pemasok dan rekan kerja dalam jumlah yang sangat besar. Contoh penerapan business
intelligencepada industri perbankan adalah customer relationship
management, customer credit analysis, risk management, credit card analysis,
customer segmentation, dll (Hair, 2007), (Dan, 2008).
Peranan business
intelligence dalam kegiatan bisnis dapat menyediakan layanan yang
lebih personal kepada pelanggan dan secara radikal meningkatkan kualitas servis
dari bank tersebut. Pengelola produk perbankan bersaing dalam mendesain produk
dan layanan yang dapat menjawab setiap kebutuhan suatu segmen tertentu.
Salah satu penerapan customer credit analysis adalah
penerapan model penilaian kredit nasabah (Ince & Aktan, 2009). Penilaian
kredit nasabah merupakan kegiatan paling penting untuk mengevaluasi aplikasi
pinjaman yang diajukan oleh nasabah. system penilaian kredit digunakan untuk
memodelkan potensi resiko dari aplikasi pinjaman, dimana system tersebut
memiliki keuntungan karena dapat menangani aplikasi pinjaman dalam jumlah besar
dengan cepat tanpa membutuhkan sumber daya yang banyak sehingga dapat
menurunkan biaya operasional dan efektif dalam mengurangi penalaran dalam
pengambilan keputusan. Dengan persaingan dan pertumbuhan pasar kredit konsumen,
para pemain di industri perbankan saling berlomba untuk mengembangkan strategi
yang lebih baik berkat bantuan penerapan model penilaian kredit. Tujuan dari
penilaian kredit adalah memberikan kemampuan kepada bagian analisa kredit untuk
menentukan aplikasi pinjaman nasabah yang diterima dari pihak marketing bank
termasuk “kredit yang baik” dimana para nasabah yang termasuk dalam kategori
tersebut memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk membayar kewajiban
finansialnya kepada bank atau “kredit yang jelek” dimana para nasabah yang
termasuk dalam kategori tersebut memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk
memenuhi kewajiban finansialnya. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh
Huseyin Ince dan Bora Aktan (2009), peneliti membandingkan kinerja dari model
penilaian kredit menggunakan pendekatan tradisional dan artificial
intelligence (discriminant analysis, logistic regression, neural
networks, classification, and regression tree). Penelitian percobaan
dengan data riil telah mendemonstrasikan bahwa classification, regression tree,
dan neural networks mengalahkan kinerja model penilaian kredit secara
tradisional dalam hal prediksi keakuratan dan type II errors.
Analisis terhadap data pelanggan merupakan kunci utama
bagi pihak manajemen bank untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal. Dengan
menggunakan konsep pareto, bahwa dengan mendesain produk dan
layanan kepada 20% nasabah dapat memberikan hasil sebesar 80% terhadap
keuntungan. Pihak manajemen mempercayai bahwa dengan menganalisa 20% nasabah
tersebut merupakan langkah yang efektif dalam meningkatkan keuntungan dan
menurunkan biaya operasional. Selain kasus diatas, pihak manajemen bank dapat
menganalisis pemasaran kartu, perhitungan harga jual dan tingkat keuntungan
terhadap pemillik kartu, deteksi terhadap potensi kecurangan, prediksi
manajemen daur hidup nasabah. Segmentasi pelanggan merupakan salah satu
strategi pemasaran yang efektif, dengan memahami karakteristik dan kebutuhan
setiap segmen nasabah maka pihak manajemen dapat mendesain bagaimana cara
memasarkan, harga, kebijakan untuk setiap produk dan layanan sehingga dapat
memberikan keuntungan yang maksimal (Mawoli & Abdulsalam, 2012). Dengan
penerapan business intelligence dalam proses segmentasi
nasabah menjadi lebih mudah karena pihak manajemen dapat dengan mudah
mengidentifikasi demografi dan geografi nasabah tetapi pihak manajemen harus
meluangkan waktu dan tenaga apabila ingin mengetahui psikografi dan perilaku
nasabah dan pihak manajemen perlu mengidentifikasi atribut-atribut yang
diperlukan seperti umur, pekerjaan, penghasilan dan jenis kelamin dengan mudah
dan pada umumnya dapat diukur dengan RFV (recency, frequency, dan value dari
perilaku transaksi mereka) (Sun, 2009), (Lin, Zhu, Yin, & Dong, 2008).
Dapat disimpulkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan nasabah
yang makin komplek dan efisiensi bisnis proses dengan otomatisasi kegiatan
operasional membutuhkan dukungan sistem informasi. Sistem informasi perbankan
perlu tetap dikembangkan sehingga dapat memenuhi kebutuhan nasabah dan
mengikuti inovasi bisnis, akan tetapi perlu adanya integrasi dengan sistem business
intelligence sehingga pihak manajemen mendapatkan informasi yang
up-to-date dan insight dari data historis.
Referensi



0 comments:
Post a Comment