Pendefinisian Contoh Penerapan pada
Enterprise Resource Planning dan Business Intelligence
Enterprise Resource Planning
Pengertian
Enterprise Resource Planning (ERP) atau Perencanaan Sumber Daya Perusahaan (PSDP) adalah suatu proses bisnis yang memakai aplikasi manajemen terintegrasi yang sebuah organisasi diperbolehkan untuk menggunakan sistem aplikasi manajemen terintegrasi tersebut untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola dan menafsirkan data dari berbagai kegiatan bisnis, termasuk.
ERP menyediakan pandangan terintegrasi dari proses bisnis inti, sering secara real-time, menggunakan basis data umum yang dikelola oleh sistem manajemen basis data. Sistem ERP melacak sumber, kas, bahan baku, kapasitas produksi dan status komitmen bisnis: pesanan, pesanan pembelian, dan gaji. Aplikasi yang membentuk sistem berbagi data di berbagai departemen (manufaktur, pembelian, penjualan, akuntansi, dll) yang menyediakan data. ERP memfasilitasi aliran informasi antara semua fungsi bisnis dan mengelola koneksi ke luar stakeholder.
Karakter Sistem
Sistem ERP biasanya mencakup karakteristik sebagai berikut :
Sebuah sistem terintegrasi yang beroperasi di (atau dekat) real time tanpa bergantung pada update berkala
Sebuah basis data umum yang mendukung semua aplikasi
Sebuah tampilan yang konsisten di seluruh modul
Instalasi sistem dengan aplikasi rumit / integrasi data oleh departemen Teknologi Informasi (TI) yang menyediakan implementasi yang tidak dilakukan dalam langkah-langkah kecil
Komponen
- Basis data transaksional
- Portal manajemen/ dasbor
Top 4 Tren
Berikut tren baru dan berlanjut yang mempengaruhi perusahaan perangkat lunak ERP:
a. Mobile ERP
Eksekutif dan karyawan ingin akses real-time ke informasi, terlepas dari mana mereka berada. Diharapkan bahwa bisnis akan merangkul ERP mobile untuk laporan, dasbor dan untuk melakukan proses bisnis utama.
b. Cloud ERP
Cloud sudah maju dengan mantap ke perusahaan untuk beberapa waktu, tetapi banyak pengguna ERP enggan untuk menempatkan cloud data. Reservasi tersebut secara bertahap telah menguap, namun, seperti keuntungan dari cloud menjadi jelas.
c. Social ERP
Telah ada banyak sensasi di sekitar media sosial dan betapa pentingnya atau tidak - itu untuk menambah ke sistem ERP. Tentu saja, vendor telah cepat untuk merebut inisiatif, menambahkan paket media sosial untuk sistem ERP mereka dengan banyak kemeriahan. Tetapi beberapa heran jika ada benar-benar banyak keuntungan yang bisa didapat dengan mengintegrasikan media sosial dengan ERP.
d. Two-tier ERP
Perusahaan dulu berusaha untuk membangun yang mencakup segala sistem ERP untuk mengurus setiap aspek dari sistem organisasi. Tetapi beberapa kegagalan mahal secara bertahap menimbulkan suatu perubahan dalam strategi dengan mengadopsi dua tingkatan ERP.
Vendor
- ERP Perusahaan besar (ERP Tingkat I): ERP untuk perusahaan besar seperti ERP dari SAP, Oracle, dan Microsoft.
- ERP Pasar Menengah (ERP Tingkat II): Untuk vendor pasar menengah seperti Infor, QAD, Lawson, Epicor, Sage, IFS, dll.
- ERP Usaha Kecil (ERP Tingkat III): Usaha kecil seperti Exact Globe, Syspro, Netsuite, Visibility, Consona, CDC Software, Solusi Activant, dll.
Penerapan ERP
Berikut ini adalah ringkasan poin-poin yg bisa digunakan sebagai pedoman pada saat implementasi ERP:
ERP adalah bagian dari infrastruktur perusahaan, dan sangat penting untuk kelangsungan hidup perusahaan. Semua orang dan bagian yang akan terpengaruh oleh adanya ERP harus terlibat dan memberikan dukungan
ERP ada untuk mendukung fungsi bisnis dan meningkatkan produktivitas, bukan sebaliknya. Tujuan implementasi ERP adalah untuk meningkatkan daya saing perusahaan
Pelajari kesuksesan dan kegagalan implementasi ERP, jangan berusaha membuat sendiri praktik implementasi ERP. Ada metodologi tertentu untuk implementasi ERP yang lebih terjamin keberhasilannya
Gagalnya ERP
- Waktu dan biaya implementasi yang melebihi anggaran
- Pre-implementation tidak dilakukan dengan baik
- Strategi operasi tidak sejalan dengan business process design dan pengembangannya
- Orang-orang tidak disiapkan untuk menerima dan beroperasi dengan sistem yang baru
- Kurangnya edukasi dalam tahap implementasi akan memberikan kesulitan bagi user yang justru akan memperlambat proses bisnis
Tanda-tanda kegagalan ERP
Kegagalan ERP biasanya ditandai oleh adanya hal-hal sebagai berikut :
- Kurangnya komitmen top management
- Kurangnya pendefinisian kebutuhan perusahaan (analisis strategi bisnis)
- Cacatnya proses seleksi software (tidak lengkap atau terburu-buru memutuskan)
- Kurangnya sumber daya (manusia, infrastruktur dan modal)
- Kurangnya ‘buy in’ sehingga muncul resistensi untuk berubah dari para karyawan
- Kesalahan penghitungan waktu implementasi
- Tidak cocoknya software dgn business process
- Kurangnya training dan pembelajaran
- Cacatnya project design & management
- Kurangnya komunikasi
- Saran penghematan yang menyesatkan
Software ERP
Berikut adalah software ERP yang saat ini beredar, baik yang berlisensi bayar maupun open source :
- INTACS Dynamics
- Acumatica
- Dynamics AX
- Compiere
- Averill AllStock
- ORACLE
- JDE
- BAAN
- MFGPro
- Protean
- Magic
- RUN System
- SAP
- SolFina
- Onesoft
- IFS
- AGRESSO
- BOSERP
- EuClid System
- Mincom Ellipse
- Axapta
- SPIN - Datadigi Indonesia
- WD ERP-SYS
- IES
- Orlansoft
- Sisinusa
- Colibris Indonesia
- OpenERP
- BizBoss
- Microsoft Dynamics NAV
- Cyber Cycle
- QAD
- SISPRO
Contoh Penerapan ERP di Suatu Perusahaan
Salah satu contoh perusahaan yang ikut mengimplementasikan sistem enterprise adalah PT. PLN (Persero). Penerapan ERP di perusahaan ini adalah mengintegrasikan seluruh kantor PLN baik pusat maupun daerah secara online. Selain itu, seluruh kantor PLN tersebut akan terstandarisasi secara internasional.
Pada tahun 2005 PT. PLN (Persero) memanfaatkan aplikasi ERP yang diterapkan di tiga proses bisnis, yaitu Manajemen Keuangan (Financial Management), Sumber Daya Manusia (Human Resource) dan Pergudangan (Material Management). Salah satu unit perintis penerapan ERP yang dilakukan perusahaan ini adalah distribusi Bali.
Tujuan Sistem ERP PT. PLN (Persero)
Dalam usaha PLN untuk mencapai performa terbaik dalam hal kinerja operasi pembangkitan, transmisi dan distribusi, sistem enterprise PLN diharapkan dapat memanajemen Keuangan (Financial Management), Sumber Daya Manusia (Human Resource), dan Pergudangan (Material Management).
Selain itu, PLN pun melakukan penandatangan kontrak pengembangan dan implementasi Enterprise Asset Management (EAM). Tujuan implementasi EAM adalah untuk memonitor kinerja aset, evaluasi kinerja vendor terkait pemeliharaan, proses bisnis yang terintergrasi dengan sistem informasi SAP (System Aplication and Product), informasi bagi manajemen untuk pengambilan keputusan yang akurat dan cepat, mekanisme kontrol dan monitoring sistem pemeliharaan yang lebih baik dan terukur.
Keseluruhan langkah strategis tersebut tengah dilakukan dalam upaya pencapaian Visi dan Misi Perusahaan yaitu “Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang Bertumbuh kembang, Unggul dan Terpercaya dengan bertumpu pada Potensi Insani".
Bisnis Proses Sistem ERP PT. PLN (Persero)
Salah satu bisnis proses EAM adalah tentang pemeliharaan distribusi. Pemeliharaan Distribusi berarti melakukan pemeriksaan atau perbaikan yang menyebabkan perlunya pemadaman listrik atau tidak. Dalam pelaksanaan pemeliharaan maka memerlukan koordinasi dengan pihak operasi agar tidak sampai terjadi gangguan atau kecelakaan kerja pada saat pembukaan alat hubung yang akan dipelihara maupun penormalannya kembali. Hasil dari pemeliharaan adalah berupa kondisi / unjuk kerja peralatan harus memenuhi ketentuannya, yaitu aman dioperasikan kembali. Maka untuk itu perlu diatur cara melakukan pemeliharaan, peralatan untuk mengukur kondisi peralatan kubikel, perkakas kerja yang digunakan pada waktu pemeliharaan. Penyimpangan dari ketentuan berarti hasil pemeliharaan tidak sesuai dengan ketentuan dan dampaknya akan menyebabkan permasalahan dalam pengoperasian bahkan dapat terjadi kecelakaan kerja.
Data dan Informasi sistem enterprise PT. PLN (Persero)
Data dan informasi yang diolah dalam sistem enterprise PT. PLN (Persero) yaitu Manajemen Keuangan (Financial Management), Sumber Daya Manusia (Human Resource), dan Pergudangan (Material Management).
Data dan informasi Manajemen Keuangan (Financial Management) salah satunya Administrasi pegawai yang mencakup tanggal pada surat penggajian harus konsisten, pengelolaan informasi keluhan dan kedisiplinan pegawai dapat dilakukan di dalam system, dan perpindahan pegawai dapat dimonitor di dalam system.
Data dan informasi Sumber Daya Manusia (Human Resource) salah satunya Administrasi Waktu Kerja yang mencakup manajemen data berkaitan dengan waktu kerja pegawai termasuk waktu lembur dan lain sebagainya dilakukan tersentralisasi di dalam sistem. Oleh karena itu, proses penggajian akan dipusatkan di kantor pusat tiap unit, data tentang administrasi penggajian di kerjakan di kantor unit bersangkutan, data tentang penggajian harus diintegrasikan dengan bagian keuangan, agar memudahkan bagian pembukuan untuk mencatat penggajian pegawai.
Human Resource
Kesulitan yang paling besar dari penerapan ERP adalah merubah pola pikir yang selama ini terbentuk dari seluruh karyawan untuk menerima sebuah perubahan. Dibutuhkan kemauan yang besar dari seluruh pegawai untuk beradaptasi dengan perubahan sistem yang selama ini telah berjalan. Tanpa adanya pola pikir yang baru, ERP tidak akan memberikan manfaat bagi perusahaan. Karena sesempurna apapun rancangan dan penerapan ERP, tidak akan berguna apabila tidak didukung oleh sumber daya manusianya.
Selain itu, PLN membentuk Tim Imbangan ERP yang terdiri dari orang-orang yang ahli di bidangnya terutama pada bisnis proses. Tim Imbangan ini bertanggungjawab langsung kepada Direksi PLN via Direktur keuangan dan direktur niaga dan pelayanan pelanggan. Mereka dituntut untuk bekerja keras dalam melakukan perubahan serta menyediakan waktu untuk melaksanakan proyek tersebut di luar waktu sebagai karyawan. Tugas Utama dari Tim Imbangan ini adalah menyukseskan pelaksanaan penerapan ERP di PLN pusat beserta ujicoba di 3 kantor PLN yang telah disebutkan di atas, dan mempersiapkan kebutuhan akan pengembangan lanjutan yaitu integrasi antar sistem.
Tim ini terdiri atas 2 tim:
- Tim Sentral, beroperasi di kantor pusat, beranggotakan atas wakil dari PLN pusat dan unit pelaksana.
- Tim Roll-Out, merupakan representasi dari Tim Sentral, yang beranggotakan atas wakil-wakil dari unit PLN yang bekerja di lokasinya masing-masing.
Hardware dan Software
Untuk mendukung Strategi Bisnis PLN, maka diperlukan solusi ERP yang akan diimplementasikan ke seluruh unit PLN. Hal ini sesuai dengan Perencanaan IT Master Plan PLN (ITMP) dimana ERP merupakan salah satu alat untuk melakukan transformasi PLN menjadi perusahaan listrik kelas dunia yang cost competitive.
Salah satu perangkat lunak ERP adalah SAP (System Applications and Products) yang telah digunakan oleh banyak perusahaan di Indonesia. Melalui pertimbangan khusus PLN juga memiliki SAP sebagai paket perangkat lunak ERP. Keputusan untuk menerapkan SAP bukanlah keputusan yang mudah karena penerapan SAP membutuhkan biaya yang tinggi. Mengingat kebutuhan biaya bukan hanya diperlukan untuk pembelian aplikasi SAP saja, tetapi juga untuk pembelian hardware, database, jaringan komunikasi data dan juga biaya konsultan yang membantu pekerjaan penerapan sistem.
Setelah sistem SAP diterapkan, manajemen perlu mengetahui apakah penerapan sistem tersebut berhasil atau tidak. Pengukuran keberhasilan penerapan sistem informasi sangat diperlukan bagi manajemen untuk mengetahui apakah investasi yang telah dikeluarkan memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Beberapa hal yang menjadi alasan implementasi SAP ERP di PT. PLN (Persero), yaitu:
1. PT. PLN (Persero) membutuhkan standarisasi proses bisnis melalui sistem “back office” yang terpadu (integrated system)
2. Untuk mengadopsi Utility Best Practices PT. PLN (Persero) Mendapatkan pengoperasian dan mekanisme pengawasan dan pengendalian proses bisnis yang lebih baik dengan adanya sistem “back office” yang standard Untuk memperoleh akses informasi dari unit-unit bisnis terkait secara real time
Business Intelligence
Business Intelligence (BI) atau Intelijen Bisnis (IB) adalah filosofi yang meliputi strategi, proses, aplikasi, data, produk, teknologi dan arsitektur teknis yang digunakan untuk mendukung pengumpulan, analisis, presentasi dan penyebaran informasi bisnis.
BI meliputi berbagai alat, aplikasi dan metodologi yang memungkinkan organisasi untuk mengumpulkan data dari sistem internal dan sumber eksternal, mempersiapkannya untuk analisis, mengembangkan dan menjalankan query terhadap data, dan membuat laporan, dasbor dan visualisasi data untuk membuat hasil analisis yang tersedia kepada para pembuat keputusan perusahaan serta pekerja operasional.
Potensi manfaat program intelijen bisnis termasuk mempercepat dan meningkatkan pengambilan keputusan; mengoptimalkan proses bisnis internal; meningkatkan efisiensi operasional; mengemudikan pendapatan baru; dan mendapatkan keunggulan kompetitif atas rival bisnis. Sistem BI juga dapat membantu perusahaan mengidentifikasi tren pasar dan masalah bisnis tempat yang perlu ditangani.
Data BI dapat mencakup informasi sejarah, serta data baru dikumpulkan dari sistem sumber seperti yang dihasilkan, memungkinkan analisis BI untuk mendukung kedua proses pengambilan keputusan strategis dan taktis. Awalnya, alat BI tersebut terutama digunakan oleh analis data dan profesional TI lainnya yang menjalankan analisis dan menghasilkan laporan dengan hasil query untuk pengguna bisnis. Namun, eksekutif bisnis dan pekerja menggunakan software BI sendiri, berkat sebagian untuk pengembangan pelayanan mandiri BI dan alat penemuan data.
Intelijen bisnis menggabungkan satu set luas dari aplikasi analisis data, termasuk analisis ad hoc dan query, pelaporan perusahaan, pengolahan analisis online, mobile BI, real-time BI, operasional BI, awan dan perangkat lunak sebagai layanan BI, open source BI , kolaboratif BI dan lokasi intelijen. teknologi BI juga mencakup visualisasi data perangkat lunak untuk merancang grafik dan infografis lainnya, serta alat-alat untuk membangun dasbor BI dan scorecard kinerja yang menampilkan data divisualisasikan pada metrik bisnis dan indikator kinerja utama dengan cara yang mudah-untuk-pegang. aplikasi BI bisa dibeli secara terpisah dari vendor yang berbeda atau sebagai bagian dari platform BI terpadu dari satu vendor.
Komponen
Intelijen bisnis terdiri dari peningkatan jumlah komponen termasuk:
- Agregasi dan alokasi multidimensi
- Denormalization, pemberian tag dan standardisasi
- Realtime melaporkan dengan peringatan analitis
- Sebuah metode berinteraksi dengan sumber data yang tidak terstruktur
- Kelompok konsolidasi, penganggaran dan prakiraan bergulir
- Inferensi statistik dan simulasi probabilistik
- Optimasi indikator kinerja utama
- Kontrol versi dan manajemen proses
- Manajemen item terbuka
Aplikasi di Suatu Perusahaan
Intelijen bisnis dapat diterapkan untuk tujuan bisnis berikut, dalam rangka mendorong nilai bisnis.
- Pengukuran : program yang menciptakan hirarki metrik kinerja (lihat juga Metrik Referensi Model) dan benchmarking yang menginformasikan para pemimpin bisnis tentang kemajuan menuju tujuan bisnis (business process Manajemen).
- Analitik : program yang membangun proses kuantitatif untuk bisnis untuk sampai pada keputusan yang optimal dan untuk melakukan penemuan pengetahuan bisnis. Sering melibatkan: penggalian data, pertambangan proses, analisis statistik, analisis prediktif, pemodelan prediktif, pemodelan proses bisnis, data silsilah, pengolahan acara kompleks dan analisis preskriptif.
- Pelaporan / perusahaan pelapor : program yang membangun infrastruktur untuk pelaporan strategis untuk melayani manajemen strategis dari bisnis, bukan pelaporan operasional. Sering melibatkan visualisasi data, sistem informasi eksekutif dan pengolahan analisis online.
- Kolaborasi / platform kolaborasi - program yang mendapat berbagai daerah (baik di dalam dan di luar bisnis) untuk bekerja sama melalui berbagi data dan pertukaran data elektronik.
- Pengetahuan manajemen : program untuk membuat perusahaan berbasis data melalui strategi dan praktek untuk mengidentifikasi, menciptakan, merepresentasikan, mendistribusikan, dan memungkinkan adopsi wawasan dan pengalaman yang pengetahuan bisnis sejati. manajemen pengetahuan mengarah ke manajemen pembelajaran dan kepatuhan terhadap peraturan.
Selain di atas, intelijen bisnis dapat memberikan pendekatan pro-aktif, seperti fungsi peringatan yang segera memberitahukan pengguna akhir jika kondisi tertentu terpenuhi. Sebagai contoh, jika beberapa metrik bisnis melebihi ambang batas yang telah ditentukan, metrik akan disorot dalam laporan standar, dan analis bisnis dapat diperingatkan melalui e-mail atau layanan pemantau lain. Proses ini end-to-end membutuhkan pemerintahan data, yang harus ditangani oleh ahli.
Contoh Penerapan di Suatu Perusahaan
Bank Mandiri terus berkomitmen meningkatkan layanan kepada nasabah melalui penguatan infrastruktur teknologi informasi (TI), sehingga dapat mendorong tingkat kepuasan nasabah dalam bertransaksi di Bank Mandiri.
Bank Mandiri dalam pengembangan infrastruktur TI tersebut juga akan mendukung pengembangan bisnis Bank Mandiri pada 2010, antara lain bisnis retail payment untuk meningkatkan penghimpunan dana murah, pengembangan high yield business, peningkatan jasa pelayanan nasabah korporasi dengan memperluas jasa layanan, membangun sinergi antar unit bisnis termasuk kantor wilayah dan unit pendukung secara menyeluruh, serta optimalisasi sinergi dengan anak perusahaan.
Sementara itu, Aliansi Unit Bisnis akan difasilitasi dengan sistem Customer Relationship Management yang terintegrasi dan dilengkapi Business Intelligence untuk meningkatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan nasabah. Bank Mandiri juga mengembangkan piranti Integrated Regulatory Reporting System dan Enterprise Risk Management untuk memastikan tata kelola perusahaan dijalankan dengan baik.
Bank Mandiri adalah salah satu bank terkemuka di Indonesia yang memberikan pelayanan kepada nasabah yang meliputi segmen usaha Corporate, Commercial, Micro & Retail, Consumer Finance dan Treasury & International Banking. Bank Mandiri pada saat ini memiliki anak-anak perusahaan untuk mendukung bisnis utamanya yaitu: Mandiri Sekuritas (jasa dan layanan pasar modal), Bank Syariah Mandiri (perbankan syariah), AXA-Mandiri Financial Services (asuransi jiwa), Bank Sinar Harapan Bali (UMKM) serta Mandiri Tunas Finance (jasa pembiayaan),
Per 30 September 2009, kredit tumbuh 15,7% (Year on Year) atau sebesar Rp 25,5 triliun, yaitu dari Rp 162,8 triliun menjadi Rp 188,3 triliun. Jumlah dana murah meningkat 17,6% atau sebesar Rp 25,4 triliun, yaitu dari Rp 143,8 triliun menjadi Rp 169,1 triliun. Net Interest Margin (NIM) mengalami penurunan dari 5,46% menjadi 5,21%. Cost Efficiency Ratio (CER) membaik dari 43,0% menjadi sebesar 39,0%. Rasio Net NPL terjaga di level 0,85%. Laba bersih mencapai Rp 4,62 triliun, atau tumbuh 16,8% dari pencapaian periode yang sama tahun 2008 yang tercatat sebesar Rp 3,95 triliun.
Referensi


0 comments:
Post a Comment