Enterprise Resource Planning
ERP
(Enterprise Resource Planning) System adalah sistem informasi yang
diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berperan
mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek
operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan.
ERP
berkembang dari Manufacturing Resource Planning (MRP II) dimana MRP II sendiri
adalah hasil evolusi dari Material Requirement Planning (MRP) yang berkembang
sebelumnya. Sistem ERP secara modular biasanya menangani proses manufaktur,
logistik, distribusi, persediaan (inventory), pengapalan, invoice dan akunting
perusahaan. Ini berarti bahwa sistem ini nanti akan membantu mengontrol
aktivitas bisnis seperti penjualan, pengiriman, produksi, manajemen persediaan,
manajemen kualitas dan sumber daya manusia.
ERP
sering disebut sebagai Back Office System yang mengindikasikan bahwa pelanggan
dan publik secara umum tidak dilibatkan dalam sistem ini. Berbeda dengan Front
Office System yang langsung berurusan dengan pelanggan seperti sistem untuk
e-Commerce, Costumer Relationship Management (CRM), e-Government dan lain-lain.
Sejarah
Perkembangan Enterprise Resource Planning (ERP)
ERP
berkembang dari manufacturing resouces planning (MRP II) dimana MRP II sendiri
adalah hasil evalusi dari material requirement planning (MRP) yang berkembang
sebelumnya. Sistem ERP secara modular biasanya menangani proses manufaktur,
logistik, distribusi persediaan (inventori), pengapalan, invois dan akunting
perusahaan. Ini berarti bahwa sistem ini nanti akan membantu mengontrol aktivitas
bisnis seperti penjualan, pengiriman, produksi, manajemen persediaan, manajemen
kualitas dan sumber daya manusia.
Enterprise Resource Planning (ERP) dan
pendahulunya, Manufacturing Resource Planning (MRP II), memungkinkan terjadinya
kemajuan yang sangat besar dalam manajemen proses-proses manufakturing. ERP
juga salah satu faktor penyumbang pada performa ekonomi Amerika yang luar biasa
pada era 1990-an. Tidak diragukan bahwa ERP adalah tonggak sejarah dalam proses
industri.
Berikut
beberapa contoh bagus mengenai penerapan ERP di berbagai perusahaan :
Enterprise
Resource Planning membantu sebuah perusahaan menaikan 20% tingkat penjualannya
di tengah industri yang sedang menurun.
Enterprise
Resource Planning membantu sebuah perusahaan Fortune 50 dalam mencapai
penghematan biaya yang sangat besar dan mendapatkan keunggulan daya saing yang
signifikan.
Berikut
ini tahapan evolusi ERP :
Tahap I
: Material Requirement Planning (MRP) : Merupakan cikal bakal dari ERP, dengan
konsep perencanaan kebutuhan material.
Tahap
II: Close-Loop MRP : Merupakan sederetan fungsi dan tidak hanya terbatas pada
MRP, terdiri atas alat bantu penyelesaian masalah prioritas dan adanya rencana
yang dapat diubah atau diganti jika diperlukan.
Tahap
III: Manufakturing Resource Planning (MRP II) : Merupakan pengembangan dari
close-loop MRP yang ditambahkan 3 elemen yaitu: perencanaan penjualan dan
operasi, antarmuka keuangan dan simulasi analisis dari kebutuhan yang
diperlukan
Tahap
IV: Enterprise Resource Planning : Merupakan perluasan dari MRP II yaitu
perluasan pada beberapa proses bisnis diantaranya integrasi keuangan, rantai
pasok dan meliputi lintas batas fungsi organisasi dan juga perusahaan dengan
dilakukan secara mudah
Tahap V:
Extended ERP (ERP II) : Merupakan perkembangan dari ERP yang diluncurkan tahun
2000, serta lebih konflek dari ERP sebelumnya.
Modul
ERP
Secara
modular, software ERP biasanya terbagi atas modul utama yakni Operasi serta
modul pendukung yakni Finansial dan Akunting serta Sumber Daya Manusia:
1. Modul
OperasiGeneral Logistics, Sales and Distribution, Materials Management,
Logistics Execution, Quality Management, Plant Maintenance, Customer Service,
Production Planning and Control, Project System, Environment Management.
2. Modul
Financial & Akuntansi
General
Accounting, Financial Accounting, Controlling, Investment Management, Treasury,
Enterprise Controlling.
3. Modul
Sumber Daya Manusia
Personnel
Management, Personnel Time Management, Payroll, Training and Event Management,
Organizational Management, Travel Management.
Manfaat
Menggunakan ERP
Berikut
ini adalah sebagian kecil manfaat dengan diaplikasikannya ERP bagi perusahaan:
1.
Integrasi data keuangan
Untuk
mengintegrasikan data keuangan sehingga top management bisa melihat dan
mengontrol kinerja keuangan perusahaan dengan lebih baik.
2.
Standarisasi Proses Operasi
Menstandarkan
proses operasi melalui implementasi best practice sehingga terjadi peningkatan
produktivitas, penurunan inefisiensi dan peningkatan kualitas produk
3.
Standarisasi Data dan Informasi
Menstandarkan
data dan informasi melalui keseragaman pelaporan, terutama untuk perusahaan
besar yang biasanya terdiri dari banyak business unit dengan jumlah dan jenis
bisnis yg berbeda-beda.
Tips
memilih ERP
Berikut
adalah beberapa tips bagaimana cara memilih ERP yang sesuai bagi perusahaan:
1.
Knowledge & Experience
Knowledge
adalah pengetahuan tentang bagaimana cara sebuah proses seharusnya dilakukan,
jika segala sesuatunya berjalan lancer. Experience adalah pemahaman terhadap
kenyataan tentang bagaimana sebuah proses seharusnya dikerjakan dengan
kemungkinan munculnya permasalahan. Knowledge tanpa experience menyebabkan
orang membuat perencanaan yang terlihat sempurna tetapi kemudian terbukti tidak
bisa diimplementasikan. Experience tanpa knowledge bisa menyebabkan terulangnya
atau terakumulasinya kesalahan dan kekeliruan karena tidak dibekali dengan
pemahaman yg cukup.
2.
Selection Methodology
Ada
struktur proses seleksi yang sebaiknya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
perusahaan dalam memilih ERP. Proses seleksi tidak harus selalu rumit agar
efektif. Yang penting organized, focused dan simple. Proses seleksi ini
biasanya berkisar antara 5-6 bulan sejak dimulai hingga penandatanganan order
pembelian ERP.
3.
Analisa Business Strategy
Bagaimana
level kompetisi di pasar dan apa harapan dari customers?
Adakah
keuntungan kompetitif yang ingin dicapai?
Apa
strategi bisnis perusahaan dan objectives yang ingin dicapai?
Bagaimana
proses bisnis yang sekarang berjalan vs proses bisnis yang diinginkan?
Adakah
proses bisnis yang harus diperbaiki?
Apa dan
bagaimana prioritas bisnis yang ada dan adakah rencana kerja yang disusun untuk
mencapai objektif dan prioritas tersebut?
Target
bisnis seperti apa yang harus dicapai dan kapan?
4.
Analisa People
Bagaimana
komitment top management thd usaha untuk implementasi ERP?
Siapa yg
akan mengimplementasikan ERP dan siapa yg akan menggunakannya?
Bagaimana
komitmen dari tim implementasi?
Apa yg
diharapkan para calon user thd ERP?
Adakah
ERP champion yg menghubungkan top management dgn tim?
Adakah
konsultan dari luar yg disiapkan untuk membantu proses persiapan?
5.
Analisa Infrastruktur
Bagaimanakah
kelengkapan infrastruktur yang sudah ada (overall networks, permanent office
systems, communication system dan auxiliary system)?
Seberapa
besar budget untuk infrastruktur?
Apa
infrastruktur yang harus disiapkan?
6.
Analisa Software
Apakah
software tsb cukup fleksibel dan mudah disesuaikan dengan kondisi perusahaan?
Apakah
ada dukungan service dari supplier, tidak hanya secara teknis tapi juga untuk
kebutuhan pengembangan sistem di kemudian hari?
Seberapa
banyak waktu untuk implementasi yg tersedia?
Apakah
software memiliki fungsi yang bisa meningkatkan proses bisnis perusahaan?
Implementasi
ERP
Berikut
ini adalah pedoman yang digunakan pada saat implementasi ERP:
ERP
adalah bagian dari infrastruktur perusahaan, dan sangat penting untuk
kelangsungan hidup perusahaan. Semua orang dan bagian yang akan terpengaruh
oleh adanya ERP harus terlibat dan memberikan dukungan terhadap jalannya ERP.
ERP ada
untuk mendukung fungsi bisnis dan meningkatkan produktivitas, bukan sebaliknya.
Tujuan implementasi ERP adalah untuk meningkatkan daya saing perusahaan.
Pelajari
kesuksesan dan kegagalan implementasi ERP, jangan berusaha membuat sendiri
praktek implementasi ERP. Ada metodologi tertentu untuk implementasi ERP yang
lebih terjamin keberhasilannya.
Penerapan ERP pada PLN
Untuk
mensejajarkan diri dengan perusahaan-perusahaan penyedia listrik tingkat dunia,
PT PLN (persero) dituntut untuk mengimplementasikan sistem yang
mengintegrasikan seluruh elemen-elemen pada perusahaan termasuk unit-unit
bisnis yang diakomodasikan oleh IT. Penerapan ERP ini guna akan meningkatkan
kompetensi perusahaan dan pelayanan. Penerapan ERP ini akan mengintegrasikan
seluruh kantor PLN baik pusat maupun daerah secara on-line, dan seluruh kantor
PLN tersebut akan terstandarisasi. Dengan penerapan ERP di lingkungan
perusahaan, maka setiap pegawai diharuskan untuk beradaptasi dengan perubahan
sistem yang terjadi.
Saat ini
penerapan ERP pada perusahaan besar sudah menjadi kategori wajib, dapat diambil
contoh perusahaan tenaga listrik seperti di malaysia dan china, berturut-turut
diwakilkan oleh Tenaga Bhd. dan Shanghai Power telah lama menerapkan ERP. Untuk
Indonesia, perusahaan BUMN yang menerapkan ERP mungkin dapat dihitung dengan
jari.
Pembahasan
ERP
merupakan satu kesatuan dengan Strategi Utama PLN dalam membenahi operasional
perusahaan secara keseluruhan tetapi saat ini ERPnya masih dalam Pilot Project.
Pengembangan selanjutnya adalah integrasi antar sistem dengan ERP. seperti
pelayanan pelanggan CIS (Sistem pelanggan yang tersentraliasi), penerapan ERP akan
mendahulukan kantor yang telah menerapkan sistem pelayanan pelanggan terlebih
dahulu, karena PLN sangat concern atas pelayanan pelanggan.
PT.PLN
(Persero) memilih SAP sebagai paket perangkat lunak ERP. Keputusan untuk
menerapkan SAP bukanlah keputusan yang mudah karena penerapan SAP membutuhkan
biaya yang tinggi. Kebutuhan biaya bukan hanya diperlukan untuk pembelian
aplikasi SAP saja, tetapi juga untuk pembelian hardware, database, jaringan
komunikasi data dan juga biaya konsultan yang membantu pekerjaan penerapan
sistem. Setelah sistem SAP diterapkan, manajemen perlu mengetahui apakah
penerapan sistem tersebut berhasil atau tidak. Pengukuran keberhasilan
penerapan sistem informasi sangat diperlukan bagi manajemen untuk mengetahui
apakah investasi yang telah dikeluarkan memberikan nilai tambah bagi
perusahaan.
Dampak
baik dari penerapan ERP di PLN sedikit-banyak telah merubah proses bisnis PLN
secara keseluruhan terutama di bidang SDM disetiap unit pilot project PLN.
Perubahan tersebut adalah seperti berikut:
> Manajemen Organisasi:
1.
Struktur organisasi dan perinciannya dikelola pada suatu sistem.
2. Perubahan organisasi harus disetujui dan dikoordinasikan oleh kantor pusat PLN
3. Jabatan dalam organisasi akan dikelompokkan berdasarkan kesamaan tugas dari jabatan-jabatan di perusahaan.
4. Integrasi data keuangan Untuk mengintegrasikan data keuangan sehingga top management bisa melihat dan mengontrol kinerja keuangan perusahaan dengan lebih baik.
5. Standarisasi Proses Operasi Menstandarkan proses operasi melalui implementasi best practice sehingga terjadi peningkatan produktivitas, penurunan inefisiensi dan peningkatan kualitas produk.
6. Standarisasi Data dan Informasi Menstandarkan data dan informasi melalui keseragaman pelaporan, terutama untuk perusahaan besar yang biasanya terdiri dari banyak business unit dengan jumlah dan jenis bisnis yg berbeda-beda.
2. Perubahan organisasi harus disetujui dan dikoordinasikan oleh kantor pusat PLN
3. Jabatan dalam organisasi akan dikelompokkan berdasarkan kesamaan tugas dari jabatan-jabatan di perusahaan.
4. Integrasi data keuangan Untuk mengintegrasikan data keuangan sehingga top management bisa melihat dan mengontrol kinerja keuangan perusahaan dengan lebih baik.
5. Standarisasi Proses Operasi Menstandarkan proses operasi melalui implementasi best practice sehingga terjadi peningkatan produktivitas, penurunan inefisiensi dan peningkatan kualitas produk.
6. Standarisasi Data dan Informasi Menstandarkan data dan informasi melalui keseragaman pelaporan, terutama untuk perusahaan besar yang biasanya terdiri dari banyak business unit dengan jumlah dan jenis bisnis yg berbeda-beda.
> Administrasi pegawai
1.
Tanggal pada surat penggajian harus konsisten
2. Pengelolaan informasi keluhan dan kedisiplinan pegawai dapat dilakukan di dalam sistem
3. Perpindahan pegawai dapat dimonitor di dalam sistem
2. Pengelolaan informasi keluhan dan kedisiplinan pegawai dapat dilakukan di dalam sistem
3. Perpindahan pegawai dapat dimonitor di dalam sistem
> Administrasi Waktu Kerja
1.
Manajemen data berkaitan dengan waktu kerja pegawai termasuk waktu lembur dan
lain sebagainya dilakukan tersentralisasi didalam sistem
>Penggajian
1.
Proses penggajian akan dipusatkan di kantor pusat tiap unit.
2. Data tentang administrasi penggajian di kerjakan di kantor unit bersangkutan.
3. Data tentang penggajian harus diintegrasikan dengan bagian keuangan.
4. Agar memudahkan bagian pembukuan untuk mencatat penggajian.
2. Data tentang administrasi penggajian di kerjakan di kantor unit bersangkutan.
3. Data tentang penggajian harus diintegrasikan dengan bagian keuangan.
4. Agar memudahkan bagian pembukuan untuk mencatat penggajian.
Penerapan
ERP yang dilakukan oleh PT.PLN Persero sedikit
banyak telah membawa PLN menjadi lebih maju. Karena semua sistem yang dilakukan
telah terintegrasi secara otomotis dengan PLN pusat. Dengan adanya integrasi
tersebut, diharapkan PLN akan semakin loyal terhadap para pelanggan.
kesimpulan :
• ERP
memberikan manfaat utama berupa sinkronisasi dan integrasi didalam perusahaan.
• Integrasi memberikan peluang bagi perusahaan untuk lebih cepat dan efisien dalam menjalankan proses bisnisnya.
• ERP juga memungkinkan perusahaan untuk melakukan penghematan coast dan meningkatkan perolehan profitnya.
• Forcasting juga dpat dilakukan dengan lebih akurat, karea data yang diperoleh masih segar dan tingkat akurasinya juga cukup baik.
• Integrasi memberikan peluang bagi perusahaan untuk lebih cepat dan efisien dalam menjalankan proses bisnisnya.
• ERP juga memungkinkan perusahaan untuk melakukan penghematan coast dan meningkatkan perolehan profitnya.
• Forcasting juga dpat dilakukan dengan lebih akurat, karea data yang diperoleh masih segar dan tingkat akurasinya juga cukup baik.
Business Intelligence
1.
Pengertian Business Intelligence
Menurut
Nadia Branon, Business Intelligence merupakan kategori yang umum digunakan
untuk aplikasi dan teknologi untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisa, dan
menyediakan akses pada data agar dapat membantu pengguna dari kalangan
perusahaan agar dapat mengambil keputusan dengan lebih baik dan tepat.
Secara
ringkas Business Intelligence dapat diartikan sebagai pengetahuan yang didapat
dari hasil analisis data yang diperoleh dari kegiatan (usaha) suatu organisasi.
Business Intelligence biasanya dikaitkan dengan upaya untuk memaksimalkan
kinerja suatu organisasi. Business intelligent system merupakan istilah yang
umumnya digunakan untuk jenis aplikasi maupun teknologi yang digunakan untuk
membantu kegiatan businnes intelligence, seperti mengumpulkan data, menyediakan
akses serta menagnalisis data dan informasi mengenai kinerja perusahaan.
2. Sejarah
Business Intelligence
Istilah
Business Intelligence (BI) pertama kali didengungkan pada tahun 1958 oleh
seorang peneliti dari IBM yang bernama Hans Peter Luhn. Beliau mendefinisikan
istilah intelligence sebagai “Kemampuan dalam mengerti dan memahami suatu
hubungan timbal balik antara fakta-fakta yang disajikan sedemikian rupa menjadi
suatu landasan dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang dikehendaki”.
Business Intelligence seperti yang kita ketahui pada saat ini bisa dikatakan
sebagai hasil evolusi dari Decision Support System (DSS) yang dimulai sekitar
tahun 1960 dan berkembang sampai tahun 1980an. Sekitar tahun 1980an mulai dari
DSS, EIS (Executive Information System), data warehouse, OLAP dan Business
Intelligence mulai menjadi perhatian dan menjadi suatu kesatuan system. Pada
tahun 1989 dalam sebuah artikel terbitan Gartner, Howard Dresner menggunakan
istilah Business Intelligence (BI) . Dia menggambarkan istilah tersebut sebagai
seperangkat konsep dan metode yang berguna untuk meningkatkan kemampuan
pembuatan keputusan dengan bantuan sistem yang berbasiskan fakta atau realita
yang terjadi.
3.
Kegunaan Business Intelligence
Perusahaan
menggunakan Business Intelligence untuk memahami, meningkatkan kinerja,
penganggaran biaya yang lebih efisien dan mengidentifikasi peluang bisnis baru.
Beberapa hal kegunaan Business Intelligence, antara lain:
1. Analisa
dalam perilaku konsumen, pola pembelian dan trend penjualan
2·
Mengukur, melacak dan memprediksi penjualan dan kinerja keuangan
3·
Penganggaran, perencanaan keuangan dan peramalan
4·
Mengetahui kinerja kegiatan pemasaran
5·
Optimalisasi proses dan kinerja operasional
6·
Meningkatkan efektifitaspengiriman dan pasokan
7· Analisa
CRM (Customer Relationship Management)
8· Analisa
Resiko
9· Analisa
nilai strategis
10·Analisa
social media
Jika pada
lembaga bisnis (profit organization) Business Intelligence dimanfaatkan untuk
meningkatkan kinerja melalui pemilihan strategi bisnis yang tepat, maka pada
lembaga pemerintahan (non-profit organization) business intelligence dapat
digunakan untuk meningkatkan kinerja perusahaan melalui peningkatan efisiensi
pelaksanaan kerja sehingga pada akhirnya akan tercipta perbaikan layanan pada
masyarakat serta pengelolaan anggaran yang tepat. Business Intelligence juga
dapat membantu suatu perusahaan dalam menganalisis perubahan trend yang terjadi
sehingga akan membantu perusahaan menentukan strategi yang diperlukan dalam
mengantisipasi perubahan trend tersebut.
PERAPAN BUSINESS INTELLIGENCE PADA PT BANK MANDIRI(PERSERO)TBK
Bank Mandiri terus berkomitmen
meningkatkan layanan kepada nasabah melalui penguatan infrastruktur teknologi
informasi (TI), sehingga dapat mendorong tingkat kepuasan nasabah dalam
bertransaksi di Bank Mandiri.
Bank Mandiri dalam pengembangan
infrastruktur TI tersebut juga akan mendukung pengembangan bisnis Bank Mandiri
pada 2010, antara lain bisnis retail payment untuk meningkatkan penghimpunan
dana murah, pengembangan high yield business, peningkatan jasa pelayanan
nasabah korporasi dengan memperluas jasa layanan, membangun sinergi antar unit
bisnis termasuk kantor wilayah dan unit pendukung secara menyeluruh, serta
optimalisasi sinergi dengan anak perusahaan.
Sementara itu, Aliansi Unit Bisnis akan
difasilitasi dengan sistem Customer
Relationship Management yang terintegrasi dan dilengkapi Business Intelligence untuk meningkatkan
pelayanan sesuai dengan kebutuhan nasabah. Bank Mandiri juga mengembangkan
piranti Integrated Regulatory Reporting
System dan Enterprise Risk Management
untuk memastikan tata kelola perusahaan dijalankan dengan baik.
Bank Mandiri adalah salah satu bank
terkemuka di Indonesia yang memberikan pelayanan kepada nasabah yang meliputi
segmen usaha Corporate, Commercial, Micro & Retail, Consumer
Finance dan Treasury &
International Banking. Bank Mandiri pada saat ini memiliki anak-anak
perusahaan untuk mendukung bisnis utamanya yaitu: Mandiri Sekuritas (jasa dan
layanan pasar modal), Bank Syariah Mandiri (perbankan syariah), AXA-Mandiri
Financial Services (asuransi jiwa), Bank Sinar Harapan Bali (UMKM) serta
Mandiri Tunas Finance (jasa pembiayaan),
Per 30 September 2009, kredit tumbuh 15,7% (Year on Year) atau sebesar Rp 25,5
triliun, yaitu dari Rp 162,8 triliun menjadi Rp 188,3 triliun. Jumlah dana
murah meningkat 17,6% atau sebesar Rp 25,4 triliun, yaitu dari Rp 143,8 triliun
menjadi Rp 169,1 triliun. Net Interest
Margin (NIM) mengalami penurunan dari 5,46% menjadi 5,21%. Cost Efficiency Ratio (CER) membaik dari
43,0% menjadi sebesar 39,0%. Rasio Net NPL terjaga di level 0,85%. Laba bersih
mencapai Rp 4,62 triliun, atau tumbuh 16,8% dari pencapaian periode yang sama
tahun 2008 yang tercatat sebesar Rp 3,95 triliun.
Komponen Dasar BI
Pada dasarnya komponen BI mencakup gathering, storing, analyzing dan providing
access to data. Dan penggunaan Business
Intelligence tidak dipungkiri memiliki
keamanan yang kurang dan timbul masalah di berbagai perusahaan lain , contohnya
:
a. Manager Promosi ingin menganalisis pengaruh tiap jenis
media iklan di koran, majalah, dan TV terhadap penjualan produk.
b. Manager HRD dapat menganalisis pengaruh kenaikan gaji
terhadap peningkatan produktivitas pekerja di lantai pabrik.
c. Manajer Penjualan ingin mengetahui pengaruh musim dan
kepadatan penduduk terhadap penjualan es krim di tiap daerah.
DAMPAK POSITIF(KENUNTUNGAN) /VALUE BAGI PT MANDIRI
PERSERO Tbk
Dalam penerapannya pun memiliki banyak keuntungan yang
sangat banyak bagi pt perbankan khususnya dikarenakan penggunaan nya dan
penerapannya menguntungkan nasabah bagi kenyamanan bertransaksi dan mendapatkan
feedback dari nasabah kepada Bank Mandiri untuk semakin banyak menabung dan
memberikan kenyamanan bagi setiap nasabahnya .
VALUE yang diperoleh
antara lain :
· Konsolidasi
informasi Dengan BI dijalankan di dalam perusahaan, data akan diolah dalam satu
platform dan disebarkan dalam bentuk informasi yang berguna (meaningful) ke seluruh organisasi.
Dengan ketiadaan information assymmetry, kolaborasi dan konsolidasi di dalam
perusahaan dapat diperkuat. Dengan konsolidasi, maka dapat dimungkinkan
pembuatan cross-functional dan corporate-wide
reports. Meskipun harus diakui, benefit ini juga mampu disediakan oleh software ERP.
· In-depth reporting Software Business
Process Management (BPM) memang mampu memberikan report dan analisis, namun
cukup sederhana dan hanya bertolak pada kondisi intern. Sedangkan BI mampu
menyediakan informasi untuk isu-isu bisnis yang lebih besar pada level
strategis.
· Customized Graphic User Interface (GUI) Beberapa
ERP memang berusaha membuat tampilan GUI yang user friendly, namun BI melangkah lebih jauh dengan menyediakan
fasilitas kustomisasi GUI. Sehingga tampilan GUI jauh dari kesan teknis dan
memberikan view of business sesuai
dengan keinginan masing-masing user.
· Sedikit masalah
teknis karena sifatnya yang user friendly
meminimasi kemungkinan operating error
dari user, dan BI hanya merupakan software pada layer teratas (information
processing) dan bukan business
process management.
· Biaya pengadaan
rendah karena BI hanya software yang bekerja pada layer teratas dari pengolahan informasi,
harga software-nya tidak semahal ERP.
Biaya pengadaannya pun menjadi lebih murah dibandingkan ERP. Apalagi saat ini
banyak ditunjang juga oleh produk BI yang open
source.
· Databank BI yang
fleksibel membuka kemungkinan untuk berkolaborasi dengan ERP sebagai pemasok
databank yang akan diolah menjadi reports
dan scorecard, namun BI juga dapat
bekerja dari databank yang dibuat
terpisah. BI pun menjadi terbuka untuk digunakan oleh analis profesional dan
peneliti, yang data olahannya bersifat sekunder.
· Kecepatan (responsiveness) merupakan sifat BI lain
yang tidak dimiliki oleh ERP. Misalnya pada penghitungan service level sebagai salah satu Key Performance Indicator (KPI). Fungsi BI akan memberikan
peringatan kepada user sebelum batas bawah dalam service level (lower limit)
terlampaui. Akibatnya masalah bisa ditangani sebelum benar-benar muncul ke
permukaan. Salah satu contoh pada responsiveness adalah industri
kesehatan, penggunaan BI berjasa mencegah penyebaran suatu penyakit/wabah
secara luas (outbreak). Nama-nama
vendor BI memang masih asing di Indonesia.
Sumber:
http://rinaindriyani91.blogspot.co.id/2013/12/business-intelligence.html



0 comments:
Post a Comment