1. ERP(Enterprise Resource Planning)
Enterprise Resources Planning (ERP) adalah
sebuah sistem yang membantu untuk mengatur proses bisnis dalam suatu kesatuan yang
terintegrasi seperti marketting, produksi, pembelian dan accounting dan
menyimpan semua transaksi dalam suatu database yang 7 Shandra Widiyanti,
MB-IPB, E-48 digunakan perusahaan serta menyediakan manajemen reporting
tools.(Brady, Monk dan Wagner 2001)
Contoh penerapan ERP:
Penerapan pada PLN
Untuk
mensejajarkan diri dengan perusahaan-perusahaan penyedia listrik tingkat dunia,
PT PLN (persero) mengimplementasikan Enterprise Resource Planning (ERP), sistem
yang mengintegrasikan seluruh elemen-elemen pada perusahaan termasuk unit-unit
bisnis yang diakomodasikan oleh IT. Penerapan ERP ini diharapkan akan
meningkatkan kompetensi perusahaan dan secara otomatis akan meningkatkan
pelayanan. Penerapan ERP ini akan mengintegrasikan seluruh kantor PLN baik
pusat maupun daerah secara on-line, dan seluruh kantor PLN tersebut akan
terstandarisasi.
Dengan penerapan ERP di lingkungan perusahaan, maka setiap pegawai diharuskan untuk beradaptasi dengan perubahan sistem yang terjadi. Pengimplementasian ERP jelas akan merubah pola kerja suatu perusahaan
Dengan penerapan ERP di lingkungan perusahaan, maka setiap pegawai diharuskan untuk beradaptasi dengan perubahan sistem yang terjadi. Pengimplementasian ERP jelas akan merubah pola kerja suatu perusahaan
- Pengimplementasian ERP
Pada tahap awal penerapan ERP, PLN menerapkan di tiga bidang yaitu: divisi keuangan, divisi logistik dan divisi sumberdaya manusia. Ujicoba Pilot project dilakukan di kantor PLN distribusi Jakarta Raya & Tangerang, distribusi Bali, dan kantor Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban Jawa-Bali.
Dengan pertimbangan khusus, PLN memilih SAP sebagai paket perangkat lunak ERP, dan bekerja sama dengan Accenture sebagai perusahaan konsultan penerapan ERP. Bisnis Proses PLN yang sangat spesifik dan berbeda dari perusahaan listrik di dunia yang lain, maka beberapa modul pada sistem ERP perlu di sesuaikan dengan kebutuhan dari PLN itu sendiri.
- Tim pembentuk ERP di PLN
Tugas Utama dari Tim Imbangan ini adalah menyukseskan pelaksanaan penerapan ERP di PLN pusat beserta ujicoba pilot project di 3 kantor PLN yang telah disebutkan diatas, dan mempersiapkan kebutuhan akan pengembangan lanjutan yaitu integrasi antar sistem.
Tim ini terdiri atas 2 tim
1. Tim Sentral, beroperasi di kantor pusat, beranggotakan atas wakil dari PLN pusat dan unit pilot.
2. Tim Roll-Out, merupakan representasi dari Tim Sentral, yang beranggotakan atas wakil-wakil dari unit PLN yang bekerja di lokasinya masing-masing.
- ERP dan Strategi Bisnis PLN
Untuk mendukung
Strategi Bisnis PLN, maka diperlukan solusi ERP yang akan diimplementasikan ke
seluruh unit PLN. Hal ini sesuai dengan Perencanaan IT Master Plan
PLN (ITMP) dimana ERP merupakan salah satu alat untuk melakukan transformasi
PLN menjadi perusahaan listrik kelas dunia yang cost competitive.
Keuntungan ERP
a. Integrasi data keuangan
b. Standarisasi Proses Operasi
c. Standarisasi Data danInformasi
d. Keuntungan yang bisa diukur
e. Penurunan inventori
f. Penurunan tenaga kerja secara total
g. Peningkatan service level
h. Peningkatan kontrol keuangan
i.
Penurunan waktu yang
di butuhkan untuk mendapatkan informasi
2. Bussiness
Intelligence
Menurut Niu
(2009), business intelligence adalah proses mengekstrak,
transformasi, mengelola, dan menganalisis data bisnis untuk mendukung
pengambilan keputusan. Dalam proses ini pada umumnya melibatkan data set dalam
jumlah besar yang tersimpan dalam datawarehouse.
Proses business intelligence meliputi lima tahapan :
- Pengumpulan data.
Sistem business intelligence dapat mengekstrak data dari
beberapa sumber data yang berasal dari berbagai unit bisnis seperti pemasaran,
produksi, sumber daya manusia, dan keuangan. Data yang sudah diekstrak harus
dibersihkan, transformasi, dan terintegrasi untuk dapat dianalisis.
- Analisis data.
Pada tahapan ini,
data dikonversi menjadi informasi atau pengetahuan melalui berbagai macam
teknik analisis seperti laporan, visualisasi, dan data mining. Hasil dari proses analisis dapat membantu
pihak manajemen untuk memahami situasi dan mengambil keputusan yang lebih baik.
- Kesadaran situasi.
Kesadaran terhadap
situasi dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap keadaan
keputusan saat ini berdasarkan hasil analisis data.
- Penilaian resiko.
Kesadaran terhadap
situasi yang cukup bervariasi dapat membantu manajer untuk memprediksi masa
depan, identifikasi ancaman dan peluang, dan merespon sesuai dengan kebutuhan.
Saat ini bisnis beroperasi dalam kondisi lingkungan yang kompleks. Pengambilan
keputusan bisnis lebih mungkin disertai resiko yang berasal dari lingkungan
eksternal dan internal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penilaian resiko
merupakan fungsi penting pada sistem business intelligence
- Dukungan pengambilan keputusan.
Tujuan utama
dari business intelligence adalah membantu manajer
mengambil keputusan dengan bijaksana berdasarkan data bisnis saat ini.
Business Intelligence Pada Industri Perbankan
Penerapan business intelligence pada industri perbankan
merupakan kunci sukses dalam mengefisiensikan dan mengefektifkan kegiatan
bisnis utama dengan kemampuan dalam mendapatkan, mengelola dan menganalisa data
nasabah, produk, layanan, kegiatan operasi, pemasok dan rekan kerja dalam
jumlah yang sangat besar. Contoh penerapan business intelligence pada
industri perbankan adalah customer relationship
management, customer credit analysis, risk management, credit card analysis,
customer segmentation, dll (Hair, 2007), (Dan, 2008).
Peranan business intelligence dalam kegiatan bisnis dapat
menyediakan layanan yang lebih personal kepada pelanggan dan secara radikal
meningkatkan kualitas servis dari bank tersebut. Pengelola produk perbankan
bersaing dalam mendesain produk dan layanan yang dapat menjawab setiap
kebutuhan suatu segmen tertentu.
Salah satu
penerapan customer credit analysis adalah
penerapan model penilaian kredit nasabah (Ince & Aktan, 2009). Penilaian
kredit nasabah merupakan kegiatan paling penting untuk mengevaluasi aplikasi
pinjaman yang diajukan oleh nasabah. system penilaian kredit digunakan untuk
memodelkan potensi resiko dari aplikasi pinjaman, dimana system tersebut
memiliki keuntungan karena dapat menangani aplikasi pinjaman dalam jumlah besar
dengan cepat tanpa membutuhkan sumber daya yang banyak sehingga dapat
menurunkan biaya operasional dan efektif dalam mengurangi penalaran dalam
pengambilan keputusan. Dengan persaingan dan pertumbuhan pasar kredit konsumen,
para pemain di industri perbankan saling berlomba untuk mengembangkan strategi
yang lebih baik berkat bantuan penerapan model penilaian kredit. Tujuan dari
penilaian kredit adalah memberikan kemampuan kepada bagian analisa kredit untuk
menentukan aplikasi pinjaman nasabah yang diterima dari pihak marketing bank
termasuk “kredit yang baik” dimana para nasabah yang termasuk dalam kategori
tersebut memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk membayar kewajiban
finansialnya kepada bank atau “kredit yang jelek” dimana para nasabah yang
termasuk dalam kategori tersebut memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk
memenuhi kewajiban finansialnya. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh
Huseyin Ince dan Bora Aktan (2009), peneliti membandingkan kinerja dari model
penilaian kredit menggunakan pendekatan tradisional dan artificial intelligence (discriminant analysis, logistic regression, neural networks,
classification, and regression tree). Penelitian percobaan
dengan data riil telah mendemonstrasikan bahwa classification, regression tree,
dan neural networks mengalahkan kinerja model penilaian kredit secara
tradisional dalam hal prediksi keakuratan dan type II errors.
Analisis terhadap
data pelanggan merupakan kunci utama bagi pihak manajemen bank untuk
menghasilkan keuntungan yang maksimal. Dengan menggunakan konsep pareto, bahwa dengan mendesain produk dan layanan
kepada 20% nasabah dapat memberikan hasil sebesar 80% terhadap keuntungan.
Pihak manajemen mempercayai bahwa dengan menganalisa 20% nasabah tersebut
merupakan langkah yang efektif dalam meningkatkan keuntungan dan menurunkan
biaya operasional. Selain kasus diatas, pihak manajemen bank dapat menganalisis
pemasaran kartu, perhitungan harga jual dan tingkat keuntungan terhadap
pemillik kartu, deteksi terhadap potensi kecurangan, prediksi manajemen daur
hidup nasabah. Segmentasi pelanggan merupakan salah satu strategi pemasaran
yang efektif, dengan memahami karakteristik dan kebutuhan setiap segmen nasabah
maka pihak manajemen dapat mendesain bagaimana cara memasarkan, harga,
kebijakan untuk setiap produk dan layanan sehingga dapat memberikan keuntungan
yang maksimal (Mawoli & Abdulsalam, 2012). Dengan penerapan business intelligence dalam proses segmentasi
nasabah menjadi lebih mudah karena pihak manajemen dapat dengan mudah
mengidentifikasi demografi dan geografi nasabah tetapi pihak manajemen harus
meluangkan waktu dan tenaga apabila ingin mengetahui psikografi dan perilaku
nasabah dan pihak manajemen perlu mengidentifikasi atribut-atribut yang
diperlukan seperti umur, pekerjaan, penghasilan dan jenis kelamin dengan mudah
dan pada umumnya dapat diukur dengan RFV (recency, frequency, dan value dari perilaku transaksi mereka) (Sun,
2009), (Lin, Zhu, Yin, & Dong, 2008).
Dapat disimpulkan
bahwa untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang makin komplek dan efisiensi bisnis
proses dengan otomatisasi kegiatan operasional membutuhkan dukungan sistem
informasi. Sistem informasi perbankan perlu tetap dikembangkan sehingga dapat
memenuhi kebutuhan nasabah dan mengikuti inovasi bisnis, akan tetapi perlu
adanya integrasi dengan sistem business intelligence sehingga
pihak manajemen mendapatkan informasi yang up-to-date dan insight dari data historis.
Manfaat dan
Keuntungan mengimplementasikan Business Intelligence
1.
Meningkatkan Profit
Bagi perusahaan atau organisasi yang
mengimplementasikan Business Intelligence, dapat membantu pebisnis dalam
mengevaluasi para pelanggannya. Dengan Business Intelligence, perusahaan dapat
mengetahui pelanggannya, berapa pelanggan yang kita punyai, apakah pelanggan
dapat menghasilkan keuntungan secara jangka panjang atau pelanggan tersebut
hanya menguntungkan dalam jangka pendek saja. Dengan Business Intelligence
pebisnis memanfaatkan keuntungan ini, pebisnis dapat meningkatkan layanannya
untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan dari pelanggan. Maka dengan demikian
pelanggan pun akan puas akan pelayanan yang diberikan dan menjadikan nilai
lebih bagi perusahaan yang mengimplementasikan Business Intelligence, secara
otomatis juga profit perusahaan semakin meningkat.
2.
Menurunkan Biaya
Dalam
mengimplementasikan Business Intelligence dalam suatu perusahaan atau
organisasi, secara tidak langsung akan menurunkan beberapa biaya yang juga
menjadi beban bagi organisasi tersebut. Seperti menurunkan biaya operasional
yang berlebih, biaya pencarian pelanggan baru, karena dengan Business
Intelligence perusahaan dapat mengetahui informasi pelanggan lama yang
berpotensial dalam perusahaan, cukup meningkatkan pelayanan kepada tersebut,
dibandingkan kita harus mengeluarkan biaya untuk pelanggan baru yang kita belum
mengenal potensi pelanggan baru. Business Intelligence dapat membantu
mengevaluiasi biaya organisasi yang dikeluarkan.
3.
Meningkatkan Pemasaran
Di dalam
persaingan bisnis yang semakin memanas, banyak perusahaan besar menerapkan
Business Intelligence untuk bertahan dalam persaingan bisnis karena dapat
dimanfaatkan untuk mengevaluasi, menganalisis pelanggan. Dengan demikian pula
perusahaan dapat mengetahui pangsa pasar yang produktif serta menguntungkan
bagi perusahaan, sehingga perusahaan dapat tetap bartahan dalam
mempertahankan pasarnya bahkan memperluas pemasarannya. Ini menjadikan suatu
strategi bagi perusahaan tersebut.
4.
Mempermudah Pengambilan Keputusan
Business
Intelligence sering kali digunakan untuk membantu dalam pengambilan keputusan.
Business Intelligence memanfaatkan dan menganalisis data, informasi dan
pengetahuan untuk memberikan nilai tersendiri bagi perusahaan serta membantunya
dalam pengambilan keputusan. Business Intelligence mampu memberikan solusi
melalui informasi yang diperoleh dari perusahaan itu sendiri. Suatu data yang
pada awalnya tidak dapat membantu dalam pengambilan keputusan, dengan Business
Intelligence data atau informasi yang ada dapat di terintegrasikan dan mudah
dimengerti. Dengan demikian, Business Intelligence membantu perusahaan agar
dapat mengambil keputusan yang tepat karena pemanfaatan informasi yang baik
REFERENSI:


0 comments:
Post a Comment