Pengertian Enterprise Resource Planning (ERP)
ERP adalah singkatan dari Enterprise Resource
Planning yang merupakan sebuah perencanaan atau sistem
informasi dalam satu perusahaan yang bertujuan untuk mengatur sumber daya,
tenaga kerja, bahan dan seluruh aktivitas dalam perusahaan. ERP berbentuk
software yang mengendalikan seluruh departemen dan kegiatan perusahaan ke dalam
sebuah sistem komputer. Dalam kata lain ERP dapat memenuhi kebutuhan perusahaan
dan semua divisi dalam perusahaan. Tujuan ERP sendiri adalah mempermudah semua
departemen perusahaan untuk dapat berkomunikasi dan bertukar informasi.
Penerapan ERP pada PT. Astra Argo
Lestari
Dalam industri yang padat modal seperti industri CPO
(perkebunan kelapa sawit), maka efektifitas dan efisiensi dalam upaya
peningkatan profitabilitas perusahaan menjadi sangat penting. Selain itu
fluktuasi harga komoditi CPO di dunia menuntut perusahaan untuk lebih responsif
terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dan untuk memaksimalkan laba melalui
efisiensi dan peningkatan produktivitas. Oleh karena itu AAL kemudian
menerapkan ERP sebagai solusinya karena dianggap selaras dengan kebutuhan
perusahaan. Tahun lalu AAL menghabiskan belanja TI sampai Rp37,58 miliar,
dengan 80%-nya untuk solusi ERP. ERP akan mengintegrasikan semua fungsi dalam
perusahaan agar data-data yang ada dapat dilihat sebagai single view
sehingga manajemen dapat dengan mudah dan cepat mengambil keputusan. ERP sangat
dibutuhkan perusahaan karena perusahaan memerlukan manajemen biaya yang baik
dan akurat mengingat komoditi CPO sangat fluktuatif di pasar dunia.
AAL menerapkan program ERP untuk menangani masalah payroll,
human resource, finance, dan sebagainya. Program ERP yang digunakan adalah
Oracle untuk memproses semua data yang berhubungan dengan sistem yang dimiliki
oleh AAL. AAL menggunakan Oracle 9.i dan Oracle 10.i sebagai database
servernya. PT AAL menggunakan software database Oracle untuk kepentingan
database servernya. Hal ini lebih dikarenakan Oracle dikenal sebagai software
database server skala besar yang mempunyai kemampuan yang baik dalam menangani
transaksi data dalam jumlah yang besar dan kemampuan proses data yang cepat.
Implementasi sistem ERP ini untuk memudahkan
masing-masing bagian melakukan rekonsiliasi. Sistem ERP terintegrasi dan
tersentral di kantor pusat. Dengan begitu, konsolidasi data tidak diperlukan
lagi, karena setiap site melakukan transaksi yang langsung terkoneksi
ke kantor pusat secara real time. Dengan sistem ERP , tracking
transaksi di site dapat diperoleh pada hari dan jam yang sama.
Contohnya, ketika ada pengiriman armada CPO ke dermaga dari sebuah site,
saat itu pula di kantor pusat sudah dapat diketahui jumlah (tonase) CPO yang
dikirim, berikut data jam pengiriman, sesuai dengan nomor Surat Jalan atau Delivery
Order pengiriman. Ketika armada tiba di dermaga pun sudah langsung dapat
diketahui pada saat itu. Istilah site pada AAL mengacu pada sebuah
lokasi yang menandai legalitas perusahaan yang dikepalai oleh seorang kepala
cabang. Satu site biasanya terdiri dari 15-20 afdeling. Satu afdeling
terdiri dari 20-25 blok, yang dikomandoi oleh dua atau tiga mandor. Satu mandor
mengawasi 15-20 orang pemanen sawit.
Pada AAL, satu site dilengkapi satu server Plantation
Management System (PMS) dan empat PC untuk kebutuhan input data. Sementara
itu, di kantor pusat disediakan satu server PMS, dua server ERP, 20 unit terminal server lainnya,
dan 20 terminal klien. PMS membantu AAL dalam perencanaan tanam dan panen di
seluruh perkebunan miliknya, dan dengan mengintegrasikan Geographical
Information and Management System (GIMS) serta pengunaan GPS maka
perencanaan rute panen dapat dilaksanakan dengan efisien. Enterprise
Resource Planning (ERP) dan Plantation Management System (PMS)
terintegrasi dengan Geographical Information and Management System
(GIMS).
Apabila sumber daya dalam melakukan produksi tidak
mencukupi, sistem ERP dapat menghitung berapa lagi sumberdaya yang diperlukan,
sekaligus membantu dalam proses pengadaannya. Ketika hendak mendistribusikan
hasil produksi, sistem ERP juga dapat menentukan cara pemuatan dan pengangkutan
yang optimal kepada tujuan yang ditentukan pelanggan. Dalam proses ini,
tentunya segala aspek yang berhubungan dengan keuangan akan tercatat dalam
sistem ERP tersebut termasuk menghitung berapa biaya produksinya.
Transaksi berbasis ERP dapat dilakukan secara real
time dan tersentralisasi karena terdapat jaringan Local Area
Network (LAN) dan Wi-Fi. Jaringan LAN dipasang di kantor pusat dan seluruh site.
Selain itu terdapat jaringan Wide Area Network yang
menghubungkan site dengan kantor pusat, dan internet.
ERP diharapkan akan dapat membawa perusahaan menjadi
lebih kuat baik di dalam maupun di luar negeri. Dengan ERP maka
keputusan-keputusan penting dapat segera diputuskan. Hal tersebut dimungkinkan
karena ERP yang dikembangkan AAL menghubungkan management dengan seluruh
perkebunan dan pabrik yang ada, serta memungkinkan untuk diakses secara real
time oleh management.
Dengan adanya pembaharuan dalam bidang IT, memberikan
dampak positif pada AAL. Dalam beberapa tahun terakhir AAL memperlihatkan
pertumbuhan kinerja yang signifikan. Misalnya, produksi fresh fruit bunch selama
15 tahun terakhir (sejak 1992) mengalami kenaikan hampir 15 kali lipat. Pada
tahun 1992 jumlah produksinya 256 ribu ton, kemudian meningkat menjadi 921 ribu
ton pada 2007, dan melonjak jadi 3.938 ribu ton pada 2008. Sementara itu,
produksi CPO naik hampir 19 kali lipat. Pada tahun 1992 produksinya hanya 49
ribu ton, kemudian meningkat drastis jadi 921 ribu ton pada 2007 dan 982 ribu
ton pada tahun berikutnya. Adapun revenue dalam 15 tahun terakhir
mengalami kenaikan hampir 124 kali lipat. Jika pada 1992, revenue AAL
hanya Rp 48 miliar, maka pada tahun 2007 meningkat drastis menjadi Rp 5,96
triliun, dan menjadi Rp 8,16 triliun pada 2008. Di samping itu, net profit
yang pada tahun 2007 sebesar Rp 1,97 triliun menjadi Rp 2,6 triliun pada tahun
2008 (swa.co.id).
Revolusi sistem TI yang dilakukan manajemen AAL juga
dirasakan manfaatnya oleh kalangan internal. Jika sebelumnya data operasional
masih terkotak-kotak di bagian masing-masing, sehingga belum menjadi sebuah
informasi yang holistik namun sekarang sudah sangat berubah, baik dalam hal
data maupun informasi. Selain itu sistem komunikasi antara personel site
dan head office jauh lebih baik. Data operasional yang masih
terkotak-kotak menyulitkan dalam proses pengambilan keputusan karena
informasinya masih terpisah.
Dengan adanya ERP, manajemen bisa melakukan analisa
terhadap perusahaan untuk mengetahui tren dan perkembangan di perusahaan
sehingga dapat melakukan pengambilan keputusan secara cepat dan tepat. Salah
satu dari fungsi pelaporan ERP adalah sistematis dan mudah. Adapun manfaat lain
yang bisa diperoleh yaitu:- ERP membantu memperlancar
proses bisnis dan membuatnya jadi lebih mudah, murah, cepat dan efisien.
- Meningkatkan etos kerja
karyawan, karena proses kerja tersusun sesuai dengan standar operasi
perusahaan yang sudah dibakukan.
- Meningkatkan jumlah penjualan,
karena sistem ERP ini membantu dalam keluar masuknya arus barang.
- Menambah daya saing perusahaan,
karena ERP membantu dalam distribusi produk dengan memberikan informasi
yang cepat dan akurat bagi konsumen.
- Mengurangi biaya dari aktifitas
yang tidak memiliki nilai tambah.
Business Intelligence
Pengertian Business Intelligence
Business
Intelligence adalah sekumpulan teknik dan alat untuk mentransformasi dari data
mentah menjadi informasi yang berguna dan bermakna untuk tujuan analisis
bisnis. Teknologi BI dapat menangani data yang tak terstruktur dalam jumlah
yang sangat besar untuk membantu mengidentifikasi, mengembangkan, dan selain
itu membuat kesempatan strategi bisnis yang baru. Tujuan dari BI yaitu untuk
memudahkan interpretasi dari jumlah data yang besar tersebut. Mengidentifikasi
kesempatan yang baru dan mengimplementasikan suatu strategi yang efektif
berdasarkan wawasan dapat menyediakan bisnis suatu keuntungan pasar yang
kompetitif dan stabilitas jangka panjang.
Penerapan Business Intelligence Pada Pt Bank
Mandiri (Persero) Tbk
Bank Mandiri
terus berkomitmen meningkatkan layanan kepada nasabah melalui penguatan
infrastruktur teknologi informasi (TI), sehingga dapat mendorong tingkat
kepuasan nasabah dalam bertransaksi di Bank Mandiri.
Bank Mandiri
dalam pengembangan infrastruktur TI tersebut juga akan mendukung pengembangan
bisnis Bank Mandiri pada 2010, antara lain bisnis retail payment untuk
meningkatkan penghimpunan dana murah, pengembangan high yield business,
peningkatan jasa pelayanan nasabah korporasi dengan memperluas jasa layanan,
membangun sinergi antar unit bisnis termasuk kantor wilayah dan unit pendukung
secara menyeluruh, serta optimalisasi sinergi dengan anak perusahaan.
Sementara
itu, Aliansi Unit Bisnis akan difasilitasi dengan sistem Customer Relationship Management yang terintegrasi dan dilengkapi Business Intelligence untuk meningkatkan
pelayanan sesuai dengan kebutuhan nasabah. Bank Mandiri juga mengembangkan
piranti Integrated Regulatory Reporting
System dan Enterprise Risk Management
untuk memastikan tata kelola perusahaan dijalankan dengan baik.
Bank Mandiri
adalah salah satu bank terkemuka di Indonesia yang memberikan pelayanan kepada
nasabah yang meliputi segmen usaha Corporate,
Commercial, Micro & Retail, Consumer
Finance dan Treasury &
International Banking. Bank Mandiri pada saat ini memiliki anak-anak
perusahaan untuk mendukung bisnis utamanya yaitu: Mandiri Sekuritas (jasa dan
layanan pasar modal), Bank Syariah Mandiri (perbankan syariah), AXA-Mandiri
Financial Services (asuransi jiwa), Bank Sinar Harapan Bali (UMKM) serta
Mandiri Tunas Finance (jasa pembiayaan),
Per 30
September 2009, kredit tumbuh 15,7% (Year
on Year) atau sebesar Rp 25,5 triliun, yaitu dari Rp 162,8 triliun menjadi
Rp 188,3 triliun. Jumlah dana murah meningkat 17,6% atau sebesar Rp 25,4
triliun, yaitu dari Rp 143,8 triliun menjadi Rp 169,1 triliun. Net Interest Margin (NIM) mengalami
penurunan dari 5,46% menjadi 5,21%. Cost
Efficiency Ratio (CER) membaik dari 43,0% menjadi sebesar 39,0%. Rasio Net
NPL terjaga di level 0,85%. Laba bersih mencapai Rp 4,62 triliun, atau tumbuh
16,8% dari pencapaian periode yang sama tahun 2008 yang tercatat sebesar Rp
3,95 triliun.
Komponen Dasar BI
Pada
dasarnya komponen BI mencakup gathering,
storing, analyzing dan providing
access to data. Dan penggunaan Business
Intelligence tidak dipungkiri memiliki keamanan yang kurang dan timbul
masalah di berbagai perusahaan lain, contohnya :
a. Manager
Promosi ingin menganalisis pengaruh tiap jenis media iklan di koran, majalah, dan
TV terhadap penjualan produk.
b. Manager
HRD dapat menganalisis pengaruh kenaikan gaji terhadap peningkatan
produktivitas pekerja di lantai pabrik.
c. Manajer
Penjualan ingin mengetahui pengaruh musim dan kepadatan penduduk terhadap
penjualan es krim di tiap daerah.
Dampak Positif(Kenuntungan) /Value Bagi Pt Mandiri
Persero Tbk
Dalam
penerapannya pun memiliki banyak keuntungan yang sangat banyak bagi pt
perbankan khususnya dikarenakan penggunaan nya dan penerapannya menguntungkan
nasabah bagi kenyamanan bertransaksi dan mendapatkan feedback dari nasabah
kepada Bank Mandiri untuk semakin banyak menabung dan memberikan kenyamanan
bagi setiap nasabahnya .
VALUE yang
diperoleh antara lain :
·
Konsolidasi
informasi Dengan BI dijalankan di dalam perusahaan, data akan diolah dalam satu
platform dan disebarkan dalam bentuk informasi yang berguna (meaningful) ke seluruh organisasi.
Dengan ketiadaan information assymmetry, kolaborasi dan konsolidasi di dalam
perusahaan dapat diperkuat. Dengan konsolidasi, maka dapat dimungkinkan pembuatan
cross-functional dan corporate-wide
reports. Meskipun harus diakui, benefit ini juga mampu disediakan oleh software ERP.
·
In-depth reporting Software Business Process
Management (BPM)
memang mampu memberikan report dan analisis, namun cukup sederhana dan hanya
bertolak pada kondisi intern. Sedangkan BI mampu menyediakan informasi untuk
isu-isu bisnis yang lebih besar pada level strategis.
·
Customized Graphic User Interface (GUI) Beberapa ERP memang berusaha
membuat tampilan GUI yang user friendly,
namun BI melangkah lebih jauh dengan menyediakan fasilitas kustomisasi GUI.
Sehingga tampilan GUI jauh dari kesan teknis dan memberikan view of business sesuai dengan keinginan
masing-masing user.
·
Sedikit
masalah teknis karena sifatnya yang user
friendly meminimasi kemungkinan operating
error dari user, dan BI hanya
merupakan software pada layer teratas (information processing) dan bukan
business process management.
·
Biaya
pengadaan rendah karena BI hanya software
yang bekerja pada layer teratas dari
pengolahan informasi, harga software-nya
tidak semahal ERP. Biaya pengadaannya pun menjadi lebih murah dibandingkan ERP.
Apalagi saat ini banyak ditunjang juga oleh produk BI yang open source.
·
Databank BI yang
fleksibel membuka kemungkinan untuk berkolaborasi dengan ERP sebagai pemasok
databank yang akan diolah menjadi reports
dan scorecard, namun BI juga dapat bekerja dari databank
yang dibuat terpisah. BI pun menjadi terbuka untuk digunakan oleh analis
profesional dan peneliti, yang data olahannya bersifat sekunder.
·
Kecepatan (responsiveness)
merupakan sifat BI lain yang tidak dimiliki oleh ERP. Misalnya pada
penghitungan service level sebagai
salah satu Key Performance Indicator
(KPI). Fungsi BI akan memberikan peringatan kepada user sebelum batas bawah
dalam service level (lower limit) terlampaui. Akibatnya
masalah bisa ditangani sebelum benar-benar muncul ke permukaan. Salah satu
contoh pada responsiveness adalah
industri kesehatan, penggunaan BI berjasa mencegah penyebaran suatu
penyakit/wabah secara luas (outbreak).
Nama-nama vendor BI memang masih asing di Indonesia.
0 comments:
Post a Comment